Cerita Seks - Aku bekerja sebagai sales assistant di sebuah supermarket Bandung. Di tempat kerjaku ada seorang cewek bernama Dina. Dina adalah cewek yang paling akrab denganku. Segala masalahnya akan dia beritahukan padaku. Dina memang Manis, kulitnya putih, matanya bulat, buah dadanya pun membulat, tidak terlalu besar tapi cukup menantang membuat setiap laki-laki yang dekat dengannya ingin selalu menjamahnya. Siapapun yang melihat tubuh Dina pasti naik nafsu syahwatnya. Pantat Ita mengiurkan juga. Rambutnyapun panjang sebahu.
Suatu hari Dina datang padaku”, Fer belakang badan Dina gatal-gatal nih”, Dina memberitahuku akan masalahnya.
“Tolong gosokkan ya, Fer”
Dina menyuruhku.
“Kalau begitu kemarilah”,
balasku dengan sedikit terkejut.
“Disini saja, di dalam
gudang lebih nikmat” Dina memberitahuku dengan suara yang amat lembut dan
begitu manja. Hatiku jadi cair.
“Fer” Dina menarik
tanganku menuju ke dalam gudang yang tak jauh dari tempat kami berdiri tadi.
Kemudian Dina mengunci
pintu gudang itu, serta mengambil bedak antiseptik di rak yang berdekatan, lalu
mengulurkannya kepadaku. Aku tak sungkan-sungkan lagi, terus saja menaburkan
bedak itu di atas telapak tanganku. Dina menarik baju yang dipakainya ke atas
hingga sebatas tengkuk. Aku menelan ludah melihat ke belakang badan Dina, yang
selama ini tak pernah aku lihat tanpa busana. Aku menepuk bedak yang ada di
tanganku ke atas badan Dina. Hangat badannya. Aku mulai menggosok. Sesekali
Dina kegelian, ketika aku mengurutkan jariku pada alur di tengah belakang badan
Dina. Aku menggosok rata. Dina meraba-raba kancing BH-nya, lalu dilepaskannya,
maka terurailah tali BH-nya itu di belakang badannya itu. berdesir darahku, aku
menelan air liur, melihat aksi Dina yang berani itu tadi. Aku terus menggosok,
dengan hati yang berdebar-debar. Aku merasa batang penisku sudah mulai
mengeras. Aku merasa tak tahan. Tengah menggosok belakang badan Dina, tanganku
secara perlahan-lahan merayap ke dada Dina.
“Hei! Apa-apaan nih”,
Dina melarang sambil menepuk tanganku.
“Ohh! sorry”, aku meminta
maaf.
Tanganku kembali ke
bekakang. BH yang Dina pakai masih melekat di dadanya, menutupi buah dadanya
yang mungil itu. Aku terus menggosok, kali ini turun sampai ke batas pinggang.
Aku memberanikan diri mengurut ke dalam rok Dina, tetapi Dina menepuk lagi
tanganku.
“Jangan!”, larang Dina
lagi.
“Sudah hilang belum gatal
itu?”, Tanyaku pada Dina.
“Belum!” jawab Dina
pendek.
Aku merasa semakin
terangsang, batang penisku semakin mengeras dan mula tegang! Aku coba lagi
untuk meraba ke dada Dina, kini aku telah dapat memegang buah dada Dina yang
lembut itu, yang tertutup dengan BH berwarna putih. Dina tidak lagi menepuk
tanganku tetapi dia memegang tanganku yang aku takupkan pada payudaranya itu.
Aku mulai meremas buah dada Dina. Dina menggeliat geli sambil tangannya
memegang pergelangan tanganku. Dina nampak sudah mula merasa terangsang, dan
memang ini adalah salah satu cara untuk membuat wanita terangsang. Aku mencium
tengkuk Dina. Dia masih menggeliat-geliat akibat remasan serta ciumanku. Buah
dadanya aku rasa sudah semakin menegang. Jariku kini memainkan peranan
memilin-milin puting susu Dina pula! Aku sadari tadi memeluk Dina dari
belakang. Batang penisku yang beberapa waktu lalu telah aku gunakan obat
memperbesar penis tambah semakin keras menonjol itu aku gesek-gesekkan pada
alur pantat Dina. Dina ketawa kecil, merangsang sekali! Dina membuka kancing
bajunya dan terus menanggalkannya berserta BH-nya dan mencampakkannya di atas
lantai. Klik Judi Online.
Kini payudara Dina tak
tertutup apa-apa lagi. Aku terus meremas-remas dan membalikkan badan Dina
supaya berhadapan denganku. Dina menciumku rakus sekali, sambil mengulum-ngulum
lidahku. Akupun begitu juga membalas dengan rakus serangan Dina. Aku menanggalkan
bajuku. Dina mencium dadaku, perutku. Aku tetap mengecup-ngecup buah dada nya
yang sudah mengeras tegang.
Tanganku menekan-nekan
pantatnya. Batang penisku semakin menegang. Tiba-tiba Ita berlutut, lalu
membuka retsleting celanaku. Dia menarik keluar batang penisku yang tegak
keras. Dina merasa kagum melihat batang penisku yang menegang secara maksimal
itu. Dina menguak rambutnya ke belakang dan meng-”karaoke” batang kejantananku.
Dia menggengam dengan rapi. Sambil mengulum secepat-cepatnya, tapi untung saja
sebelumnya saya sudah memakai obat kuat lelaki hingga tidak cepat ejakulasi
saat di kulum oleh ita.
Dina mengarahkan batang
penis ke matanya, hidungnya, ke pipinya. Dina mencium sekitar batang penisku.
Aku merasa nikmat sekali. Dina terus mengulum penisku hingga ke pangkal makin
lama semakin cepat. Aku merasa kepala penisku terkena anak tekak Dina. Ngilu
rasanya! Aku juga membantu Ita dengan mendorong dan menarik kepalanya.
“Dina, sudah hampir keluar!
Sudah hampir keluar! Dina sengaja berlagak tak tahu saja, ketika aku katakan
maniku sudah hendak keluar. Dina masih mengulum. Air maniku tersemprot memenuhi
rongga mulut Dina. Dia lantas mencabut keluar penisku lalu menjilat-jilat air
maniku. Dia nampaknya menikmati sekali. Penisku jadi lembek kembali!
“Aik! belum apa-apa sudah
lembek”.
Dina mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Dina tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Dina duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Dina sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekitarnya. dina meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Dina. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Dina.
Dina mengulum lagi penisku. Penisku jadi tegang lagi. Dina tersenyum memandangnya. Aku membuka celana. Dina duduk di atas meja. Aku berlutut menarik rok dan celana dalamnya. Dina sudah bugil di depanku. Bulu yang tipis warna pirang menutupi vaginanya. Aku mencium sekitarnya. dina meletakkan kedua belah kakinya di atas bahuku. Aku mengangkangkan paha Dina. Bibir vaginanya sedikit terbuka. Aku menjilatinya. Aku buka sedikit dengan jari lalu mengoreknya sedikit demi sedikit jariku menyodok vagina Dina.
“Argh, argh, argh!” Dina
mengerang perlahan. Vaginanya terlihat basah sekai. Aku meletakkan kepala
penisku ke pintu vaginanya. Aku sodok sedikit, “Argh!” Dina mengerang lagi.
Laku aku tekan lagi. ” Yes!” suara Dina perlahan. Aku menyodok lagi dalam
sedikit dan terus ke pangkal. Aku mendorong dan menarik berulang kali. Dina
makin terlihat lemas dan nikmat. Aku merasa kehangatan lubang vagina Dina. Dina
mencabut penisku keluar. Dia turun dari atas meja dan mendorongku telentang
lalu duduk di atas badanku dan memasukkan lagi penisku ke dalam lubang
vaginanya itu. Dia mengayun ke atas dan ke bawah. Klik Casino Online.
Tak lama dia tarik keluar
lagi penisku. Dina kini agresif. Aku mendorongnya telentang lagi. Dina
merapatkan payudaranya dengan kedua belah tangannya. “Masukin di celah susuku
dong! Masukin di celah susu ah..!” Dina menyuruhku. Aku tidak sungkan-sungkan
lagi terus melakukannya tapi sebentar saja. Aku duduk dan Dina masih telentang,
pahaku di bawah paha Dina, aku sodok lagi penisku ke dalam vaginanya. Aku
mengayun dengan perlahan. Licin dan sedap rasanya Dina bangun dan bertiarap di
atas meja, kakinya lurus ke lantai menungging! Akupun berdiri lalu membuat ‘dog
style’. Aku pegang kiri dan kanan pantat Dina dan mengayun lagi. Aku kemudian
menyangkutkan sebelah kaki Dina di atas bahuku dalam posisi telentang. Aku
sodok lagi tarik dan keluar dorong dan masuk ke dalam vaginanya, pokoknya malam
itu kami merasakan kepuasan bersama dengan mencoba segala posisi.
No comments:
Post a Comment