Cerita Seks - Setahun aku hidup sekasur dengan dia, selama itu pula aku tidak pernah merasakan apa yang dinamakan nikmat seksual. Padahal, kata teman-teman, malam pertama malam yang paling indah. Sedangkan untuk aku, malam pertama adalah malam neraka !!!. Ternyata, Burhan, suamiku itu mengidap penyakit diabetes (kadar gula darah yg tinggi), yang sangat parah, hingga mengganggu kejantanannya diatas ranjang.
Selama
lima tahun kami menikah, selama itu pula aku digaulinya hanya dengan mencumbu,
mencium, dan meng-elus-elus saja, selebihnya hanya keluhan-keluhan kekecewaan
saja. Burhan sering merangsang dirinya dengan memutar film-film porno yang kami
saksikan berdua sebelum melakukan aktifitas seksual. Tapi apa yang terjadi ?
Burhan tetap saja loyo, tak mampu merangsang penisnya agar bisa ereksi, tapi
justru aku yang sangat amat terangsang, konyol sekali.
Aku
mendapat pelajaran seksual dari film-film yang diputar Burhan. Aku sering
berkhayal, aku disetubuhi laki-laki jantan. Aku sering melakukan masturbasi
ringan untuk melampiaskan hasrat seksualku, dengan berbagai cara yang kudapat
dari khayalan-khayalanku.
Pada
suatu hari, Burhan harus terbaring di rumah sakit yang disebabkan oleh
penyakitnya itu. Selama hampir satu bulan dia dirawat di RS, aku semakin terasa
kesepian selama itu pula. Pada suatu hari aku harus pergi menebus obat di
sebuah apotek besar, dan harus antre lama. Selama antre aku jenuh sekali.
Tiba-tiba aku ingin keluar dari apotek itu dan mencari suasana segar.
Aku
pergi ke sebuah Mall dan makan dan minum disebuah restauran. Disitu aku duduk
sendiri disebuah pojok. Karena begitu ramainya restauran itu, sehingga aku
mendapat tempat yang belakang dan pojok. Setelah beberapa saat aku makan, ada
seorang anak muda ganteng minta ijin untuk bisa duduk dihadapan aku. Karena
mungkin hanya bangku itu yang satu-satunya masih tersisa. Dia ramah sekali dan
sopan, penuh senyum.
Singkat
cerita, kami berkenalan, dan ngobrol ngalor-ngidul, hingga suatu waktu, dia
membuka identitas dirinya. Dia masih bujang, orang tuanya tinggal di luar
negeri. Di Jakarta dia tinggal bersama adik perempuannya yang masih di bangku
SMU. Hampir satu jam kami ngobrol. Dalam saat obrolan itu, aku memberikan kartu
namaku lengkap dengan nomor teleponnya.
Cowok
itu namanya Ronald, badannya tegap tinggi, kulitnya sawo matang, macho
tampaknya. Sebelum kami berpisah, kami salaman dan janji akan saling menelpo
kemudian. Sewaktu salaman, Ronald lama menggenggap jemariku seraya menatap
dalam-dalam mataku diiringi dengan sebuah senyum manis penuh arti. Aku
membalasnya, tak kalah manis senyumku. Kemudian kami berpisah untuk kembali kekesibukan
masing-masing.
Dalam
perjalanan pulang, aku kesasar sudah tiga kali. Sewaktu aku nyetir mobil,
pikiranku kok selalu ke anak muda itu ? kenapa hanya untuk jalan pulang ke
kawasan perumahanku aku nyasar kok ke Ciputat, lalu balik kok ke blok M lagi,
lantas terus jalan sambil mengkhayal, eh…..kok aku sudah dikawasan Thamrin.
Sial banget !!! Tapi Ok lho ?!
Sudah
satu minggu usia perkenalanku dengan Ronald, setiap hari aku merasa rindu
dengan dia. Suamiku Burhan masih terbaring di rumah sakit, tapi kewajibanku
mengurusi Burhan tak pernah absen. Aku memberanikan diri menelpon Ronald ke HP
nya. Ku katakan bahwa aku kanget banget dengan dia, demikian pula dia, sama
kangen juga dengan aku. Kami janjian dan ketemu ditempat dulu kami bertemu.
Ronald
mengajak aku jalan-jalan, aku menolak, takut dilihat orang yang kenal dengan
aku. Akhirnya kami sepakat untuk ngobrol di tempat yang aman dan sepi, yaitu; ”
Hotel”. Ronald membawa aku ke sebuah hotel berbintang. Kami pergi dengan
mobilnya dia. Sementara mobilku ku parkir di Mall itu, demi keamanan privacy.
Di
hotel itu kami mendapat kamat di lantai VII, sepi memang, tapi suasananya
hening, syahdu, dan romantis sekali. ” Kamu sering kemari ?” tanyaku, dia
menggeleng dan tersenyum. ” Baru kali ini Tante ” sambungnya. ” Jangan panggil
aku tante terus dong ?! ” pintaku. Lagi-lagi dia tersenyum. ” Baik Yulia ”
katanya. Kami saling memandang, kami masih berdiri berhadapan di depan jendela
kamar hotel itu. Kami saling tatap, tak sepatahpun ada kata-kata yang keluar.
Jantungku semakin berdebar keras, logikaku mati total, dan perasaanku semakin
tak karuan, bercampur antara bahagia, haru, nikmat, romantis, takut,
ah…..macam-macamlah!!!.
Tiba-tiba
saja, entah karena apa, kami secara berbarengan saling merangkul, memeluk
erat-erat. Ku benamkan kepalaku di dada Ronald, semakin erat aku dipeluknya.
Kedua lenganku melingkar dipinggangnya. Kami masih diam membisu. Tak lama
kemudian aku menangis tanpa diketahui Ronald, air mataku hangat membasahi
dadanya. ” Kamu menangis Yulia ? ” Tanyanya. Aku diam, isak tangisku semakin
serius. ” kanapa ? ” tanyanya lagi. Ronals menghapus air mataku dengan
lembutnya. ” Kamu menyesal kemari Yulia ?” tanya Ronald lagi. Lagi-lagi aku
membisu. Akhirnya aku menggeleng.
Dia
menuntunku ketempat tidur. Aku berbarin di bagian pinggir ranjang itu. Ronald
duduk disebelahku sambil membelai-belai rambutku. Wah….rasanya selangit banget
!. Aku menarik tangan Ronald untuk mendekapku, dia menurut saja. Aku memeluknya
erat-erat, lalu dia mencium keningku. Tampaknya dia sayang padaku. Ku kecup
pula pipinya. Gairah sex ku semakin membara, maklum sekian tahun aku hanya bisa
menyaksikan dan menyaksikan saja apa yang dinamakan ” penis” semnatar belum
pernah aku merasakan nikmatnya. Klik Judi Online.
Ronald
membuka kancing bajunya satu persatu. Kutarik tangannya untuk memberi isyarat
agat dia membuka kancing busananku satu persatu. Dia menurut. Semakin dia
membuka kancing busanaku semakin terangsang aku. Dalam sekejap aku sudah bugil
total ! Ronal memandangi tubuhku yang putih mulus, tak henti-hentinya dia
memuji dan menggelengkan kepalanya tanda kekagumannya. Lantas diapun dalam
sekejap sudah menjadi bugil. Aduh……jantan sekali dia. Penisnya besar dan
ereksinya begitu keras tampaknya.
Nafasku
semakin tak beraturan lagi. Ronald mengelus payudaraku, lalu……mengisapnya.
Oh…..nikmat dan aku terangsang sekali. Dia menciumi bagian dadaku, leherku. Aku
tak kalah kreatif, ku pegang dan ku elus-elus penisnya Ronald. Aku terbayang
semua adegan yang pernah ku saksikan di film porno. Aku merunduk tanpa sadar,
dan menghisap penisnya Ronald. Masih kaku memang gayaku, tapi lumayanlah buat
pemula. Dia menggelaih setiap kujilati kepala penisnya. Jari jemari Ronald
mengelus-elus kemaluanku, bulu memekku di elus-elus, sesekali manarik-nariknya.
Semakin terangsang aku.
Basah
tak karuan sudah vaginaku, disebabkan oleh emosi sex yang meluap-luap. Aku lupa
segalanya. Akhirnya, kami sama-sama mengambil posisi ditengah-tengah ranjang.
Aku berbarimng dan membuka selangkanganku, siap posisi, siap digempur. Ronald
memasukkan penisnya kedalam vaginanku, oh….kok sakit, perih ?, aku diam saja,
tapi makin lama makin nikmat. Dia terus menggoyang-goyang, Hingga….cret…cret…cret…air
mani Ronald tumpah muncrat di dalam vaginaku. Sebenarnya aku sama seperti dia,
kayaknya ada yang keluar dari vaginaku, tapi aku sudah duluan, bahkan sudah dua
kali aku keluar.
Astaga,
setelah kami bangkit dari ranjang, kami lihat darah segar menodai seprei putih
itu. Aku masih perawan !!! Ronald bingung, aku bingung. Akhirnya aku teringat,
dan kujelaskan bahwa selama aku menikah, aku belum pernah disetubuhi suamiku,
karena dia impoten yang disebabkan oleh sakit kencing manis.
”
Jadi kamu masih perawan ?! ” Tanyanya heran. Aku menjelaskannya lagi, dan dia
memeluk aku penuh rasa sayang dan kemesraan yang dalam sekali. Kami masih
bugil, saling berangkulan, tubuh kami saling merapat. Aku mencium bibir nya,
tanda sayangku pula. Seharusnya kegadisanku ini milik suamiku, kenapa harus
Ronald yang mendapatkannya? Ah….bodo amat ! aku juga bingung !
Hampit
satu hari kami di kamar hotel itu, sudah tiga kali aku melakukan hubungan sex
dengan anak muda ini. Tidak semua gaya bisa ku praktekkan di kamar itu. Aku
belum berpengalaman ! Tampaknya dia juga begitu, selalu tak tahan lama !! Tapi
lumayan buat pemula .
Setelah
istirahat makan, kami tudur-tiduran sambil ngobrol, posisi masig dengan busana
seadanya. Menjelang sore aku bergegas ke kamar mandi. membrsihkan tubuh. Ronald
juga ikut mandi. Kami mandi bersama, trkadang saling memeluk, saling mencium, tertawa,
bahkan sedikit bercanda dengan mengelus-elus penisnya. Dia tak kalah kreatif,
dimainkannya puting payudaraku, aku terangsang……dan…….oh,….kami melakukannya
lagi dengan posisi berdiri. Tubuh kami masih basah dan penuh dengan sabun
mandi. Oh nikmatnya, aku melakukan persetubuhan dalam keadaan bugil basah di
kamar mandi.
Ronal
agak lama melakukan senggama ini, maklum sudah berapa ronde dia malakukannya,.
kini dia tampak tampak sedikit kerja keras. Dirangsangnya aku, diciuminya
bagian luar vaginaku, dijilatinya tepinya, dalamnya, dan oh….aku menggeliat
kenikmatan. Akupun tak mau kalah usaha, ku kocok-kocok penis Ronald yang sudah
tegang membesar itu, ku tempelkan ditengah-tengah kedua payudaraku, kumainkan
dengan kedua tetekku meniru adegan di blue film VCD.
Tak
kusangka, dengan adegan begitu, Ronald mampu memuncratkan air maninya, dan
menyemprot ke arah wajahku. Aneh sekali, aku tak jijik, bahkan aku
melulurkannya kebagian muka dan kurasakan nikmat yang dalam sekali. ” Kamu
curang ! Belum apa-apa sudah keluar !” Seruku. ” Sorry, enggak tahan….”
Jawabnya. Kutarik dia dan kutuntun kontol ronal masuk ke memekku, kudekap dia
dalam-dalam, kuciumi bibirnya, dan kugoyang-goyang pinggulku sejadinya. Ronald
diam saja, tampak dia agak ngilu, tapi tetap kugoyang, dan ah….aku yang puas
kali ini, hingga tak sadar aku mmencubit perutnya keras-keras dan aku setengah
berteriak kenikmatan, terasaada sesuatu yang keluar di vaginaku, aku sudah
sampai klimaks yang paling nikmat.
Setelah
selesai mandi, berdandan, baru terasa alat vitalku perih. Mungkin karena aku
terlalu bernafsu sekali. Setelah semuanya beres, sebelum kami meninggalkan
kamar itu untuk pulang, kami sempat saling berpelukan di depan cermin. Tak
banyak kata-kata yang kami bisa keluarkan. Kami membisu, saling memeluk. ” Aku
sayang kamu Yulia ” Terdenga suara Ronald setengah berbisik, seraya dia menatap
wajahku dalam-dalam. Aku masih bisu, entah kenapa bisa begitu.
Diulanginya
kata-kata itu hingga tiga kali. Aku masih diam. Tak kuduga sama sekali, aku
meneteskan airmata, terharu sekali. ” Aku juga sayang kamu Ron ” Kataku lirih.”
Sayang itu bisa abadi, tapi cinta sifatnya bisa sementara ” Sambungku lagi.
Ronald menyeka air mataku dengan jemarinya. Aku tampak bodoh dan cengeng,
kenapa aku bisa tunduk dan pasrah dengan anka muda ini ?
Setelah
puas dengan adegan perpisahan itu, lantas kami melangkah keluar kamar, setelah
check out, kami menuju Blok M dan kai berpisah di pelataran parkir. Aku sempat
mengecup pipinya, dia juga membalasnya dengan mencium tanganku. Ronald kembali
kerumahnya, dan aku pulang dengan gejolak jiwa yang sangat amat berkecamuk tak
karua. Rasa sedih, bahagia, puas, cinta, sayang dan sebaginya dan sebagainya. Klik Casino Online.
Ketika
memasuki halaman rumahku, aku terkejut sekali, banyak orang berkumpul disana.
Astaga ada bendera kuning dipasang disana. Aku mulai gugup, ketika aku kemuar
dari mobil, kudapati keluarga mas Burhan sudah berkumpul, ada yang menangis. Ya
ampun, mas Burhan suamiku sudah dipanggil Yang Kuasa. Aku sempat dicerca pihak
keluarganya, kata mereka aku sulit dihubungi. Karuan saja, HP ku dari sejak di
Hotel kumatikan hingga aku dirumah belum kuhidupkan. Kulihat mas Burhan sudah
terbujur kaku ditempat tidur. Dia pergi untuk selamanya, meninggalkan aku,
meninggalkan seluruh kekayaannya yang melimpah ruah. Kini aku jadi janda kaya
yang kesepian dalam arti yang sebenarnya.
Tiga
hari kemudian aku menghubungi Ronald via HP, yang menjawab seorang perempuan
dengan suara lembut. Aku sempat panas, tapi aku berusaha tak cemburu. Aku
mendapat penjelasan dari wanita itu, bahwa dia adik kandungnya Ronald. Dan
dijelaskan pula bahwa Ronald sudah berangkat ke Amerika secara mendadak, karena
dipanggil Papa Mamanya untuk urusan penting.
Kini
aku telah kehilangan kontak dengan Ronald, sekaligus akan kehilangan dia. Aku
kehilangan dua orang laki-laki yang pernah mengisi hidupku. Sejak saat itu
sampai kini, aku selalu merindukan laki-laki macho seperti Ronald. Sudah tiga
tahun aku tak ada kontak lagi dengan Ronald, dan selama itu pula aku mengisi
hidupku hanya untuk shopping, jalan-jalan, nonton, ah…macam-macamlah. Yang
paling konyol, aku menjadi pemburu anak-anak muda ganteng. Banyak sudah yang
kudapat, mulai dari Gigolo profesional hingga anak-anak sekolah amatiran. Tapi
kesanku, Ronald tetap yang terbaik !!!
Aku tetap menunggu, sekalipun kulitku sampai kendur, mataku lamur, usiaku uzur, ubanku bertabur, dan sampai masuk kubur, Oh….Ronald, kuharap engkau membaca kisah kita ini. Ketahuilah, bahwa aku kini menjadi maniak seks yang luar biasa, hanya engkau yang bisa memuaskan aku, Ron.
Aku tetap menunggu, sekalipun kulitku sampai kendur, mataku lamur, usiaku uzur, ubanku bertabur, dan sampai masuk kubur, Oh….Ronald, kuharap engkau membaca kisah kita ini. Ketahuilah, bahwa aku kini menjadi maniak seks yang luar biasa, hanya engkau yang bisa memuaskan aku, Ron.
No comments:
Post a Comment