Cerita Seks - Pamanku terbilang orang sukses karena dalam bisnisnya lancer
semua, mungkin sebab itu pamanku sibuk ke bisnisnya sampai lupa pendamping
hidupnya, sudah disarankan kepada keluarganya dan dipilihakn wanita tapi selalu
saja ada pertimbangan yang khusus dari paman sendiri, minta ini minta itu dan
pada suatu saat paman membawa wanita yang sangat cantik. Namanya Cindy seperti
namanya dia juga cantik, tak cantik pula dia juga supel kepada kami, dia
berusia 24 tahun dan saat itu ia bekerja sebagai sekretaris di perusahaan teman
pamanku itu.
Kemudian kami bercakap-cakap, ternyata Cindy memang enak untuk
diajak ngobrol. Dan aq melihat sepertinya pamanku tertarik sekali dengannya,
karena aq tahu matanya tidak pernah lepas memandang wajah Cindy. Tapi tidak
demikian halnya dengan Cindy. Ia lebih sering memandangku, terutama ketika aq
berbicara, tatapannya dalam sekali, seolah-olah dapat menembus pikiranku. Aq mulai
berpikir jangan-jangan Cindy lebih menyukaiku.
Tapi aq tidak dapat berharap banyak, soalnya bukan aq yang
hendak dijodohkan. Tapi aq tetap saja memandangnya ketika ia sedang berbicara,
kupandangi dari ujung rambut ke kaki, rambutnya panjang seperti gadis di iklan
sampo, kulitnya putih bersih, kakinya juga putih mulus, tapi sepertinya dadanya
agak rata, tapi aq tidak terlalu memikirkannya.Tidak terasa hari sudah mulai
malam. Kemudian sebkamum mereka pulang, pamanku mentraktir mereka makan di
sebuah restoran chinese food di dekat rumahnya di daerah Sunter. Ketika sampai
di restorant tersebut, aq langsung pergi ke wc dulu karena aq sudah kebelet.
Sebkamum aq menutup pintu, tiba-tiba ada tangan yang menahan pintu tersebut.
Ternyata adalah Cindy.
“Eh, ada apa Yu?”
“Enggak, aq pengen kasih kartu nama aq, besok jangan lupa telpon
aq, ada yang mau aq omongin, oke?”
“Kenapa
enggak sekarang aja?”
“Jangan,
ada paman kamu, pokoknya besok jangan lupa.”
Setelah
acara makan malam itu, aq pun pulang ke rumah dengan seribu satu pertanyaan di
otakku, apa yang mau diomongin sama Cindy sih. Tapi aq tidak mau pikir panjang
lagi, lagipula nanti aq bisa-bisa susah tidur, soalnya kan besok harus masuk
kerja.
Besoknya
saat istirahat makan siang, aq meneleponnya dan bertanya langsung padanya.
“Eh,
apa sih yang mau kamu omongin, aq penasaran banget?”
“Eeee,
penasaran ya, Ton?”
“Iya
lah, ayo dong buruan!”
“Eh,
slow aja lagi, napsu amet sih kamu.”
“Baru
tahu yah, napsu aq emang tinggi.”
“Napsu
yang mana nih?” Cindy sepertinya memancingku.
“Napsu
makan dong, aq kan bkamum sempat makan siang!”
Aq
sempat emosi juga rasanya, sepertinya ia tidak tahu aq ini orang yang sangat
menghargai waktu, terutama jam makan siang, soalnya aq sambil makan dapat
sekaligus main internet di tempat kerjaq, karena saat itu pasti bosku pergi
makan kkamuar, jadi aq bebas surfing di internet, gratis lagi.
“Yah
udah, aq cuma mau bilang bisa enggak kamu ke apartment aq sore ini abis pulang
kerja, soalnya aq pengen ngobrol banyak sama kamu.”
Aq
tidak habis pikir, nih orang kenapa tidak bilang kemarin saja.
Lalu
kataq, “Kenapa enggak kemarin aja bilangnya?”
“Karena
aq mau kasih surprise buat kamu.” katanya manja.
“Ala,
gitu aja pake surprise segala, yah udah entar aq ke tempat kamu, kira-kira jam
6, alamat kamu di mana?”
Lalu
Cindy bilang, “Nih catet yah, apartment XXX, lantai XX, pintu no. XXX, jangan
lupa yah!””Oke deh, tunggu aja nanti, bye!”
“Bye-bye
Ton.”
Setelah
telepon terputus, lalu aq mulai membayangkan apa yang akan dibicarakan, lalu
pikiran nakalku mulai bekerja. Apa bisa aq menyentuhnya nanti, tetapi langsung
aq berpikir tentang pamanku, bagaimana kalau nanti ketahuan, pasti tidak enak
dengan pamanku. Lalu aq pun mulai tenggelam dalam kesibukan pekerjaanku.
Tidak
lama pun waktu sudah menunjukkan pukul 17.00, sudah waktunya nih, pikirku. Lalu
aq pun mulai mengendarai motorku ke tempatnya. Lumayan dekat dari tempat kerjaq
di Roxymas. Sesampainya di sana, aq pun langsung menaiki lift ke lantai yang
diberitahukan. Begitu sampai di lantai tersebut, aq pun langsung melihatnya
sedang membuka pintu ruanganya.
Langsung
saja kutepuk pundaknya, “Hai, baru sampe yah, Yu..”
Cindy
tersentak kaget, “Wah aq kira siapa, pake tepuk segala.”
“Kamu
khan kasih surprise buat aq, jadi aq juga mesti kasih surprise juga buat kamu.”
Lalu
ia mencubit lenganku, “Nakal kamu yah, awas nanti!”
Kujawab
saja, “Siapa taqt, emang aq pikirin!”
“Ayo
masuk Ton, santai aja, anggap aja rumah sendiri.” Ucapannya setelah pintunya
terbuka.
Ketika
aq masuk, aq langsung terpana dengan apa yang ada di dalamnya, kulihat
temboknya berbeda dengan tembok rumah orang-orang pada umumnya, temboknya
dilukis dengan gambar-gambar pemandangan di luar negeri. Dia sepertinya orang
yang berjiwa seniman, pikirku. Tapi hebat juga kalau cuma kerja sebagai
sekretaris mampu menyewa apartment. Jangan-jangan ini cewek simpanan, pikirku.
Sambil
aq berkeliling, Cindy berkata, “Mau minum apa Ton?”
“Apa
saja lah, asal bukan racun.” kataq bercanda.
“Oh,
kalau gitu nanti saya campurin obat tidur deh.” Ucapan Cindy sambil tertawa.
Sementara
ia sedang membuat minuman, mataq secara tidak sengaja tertuju pada rak VCD-nya,
ketika kulihat satu persatu, ternyata lebih banyak film yang berbau porno. Aq
tidak sadar ketika ia sudah kembali, tahu-tahu ia nyeletuk, “Ton, kalo kamu mau
nonton, setel aja langsung..!”
Aq
tersentak ketika ia ngomong seperti itu, lalu kubilang, “Apa aq enggak salah
denger nih..?”
Lalu
katanya, “Kalo kamu merasa salah denger, yah aq setelin aja sekarang deh..!”
Lalu
ia pun mengambil sembarang film kemudian disetelnya. Wah, gila juga nih cewek,
pikirku, apa ia tidak tahu kalau aq ini laki-laki, baru kenal sehari saja,
sudah seberani ini.
“Duduk
sini Ton, jangan bengong aja, khan udah aq bilang anggap aja rumah sendiri..!”
Kata Cindy sambil menepuk sofa menyuruhku duduk.
Kemudian
aq pun duduk dan nonton di sampingnya, agak lama kami terdiam menyaksikan film
panas itu, sampai akhirnya aq pun buka mulut, “Eh Yu, tadi di telpon kamu
bilang mau ngomong sesuatu, apa sih yang mau kamu ngomongin..?” Cindy tidak
langsung ngomong, tapi ia kemudian menggenggam jemariku, aq tidak menyangka
akan tindakannya itu, tapi aq pun tidak berusaha untuk melepaskannya.
Agak lama kemudian baru ia ngomong, pelan sekali, “Kamu tau Ton,
sejak kemarin bertemu, kayaknya aq merasa pengen menatap kamu terus, ngobrol
terus. Ton, aq suka sama kamu.”
“Tapi
khan kemarin kamu dikenalkan ke Paman aq, apa kamu enggak merasa kalo kamu itu
dijodohin ke Paman aq, apa kamu enggak lihat reaksi Paman aq ke kamu..?”
“Iya,
tapi aq enggak mau dijodohin sama Paman kamu, soalnya umurnya aja beda jauh, aq
pikir-pikir, kenapa hari itu bukannya kamu aja yang dijodohin ke aq..?” kata
Ayu sambil mendesah. Aq pun menjawab, “Aq sebenarnya juga suka sama kamu, tapi
aq enggak enak sama Paman aq, entar dikiranya aq kurang ajar sama yang lebih
tua.”
Cindy diam saja, demikian juga aq, sementara itu film semakin
bertambah panas, tapi Cindy tidak melepaskan genggamannya. Lalu secara tidak
sadar otak pornoku mulai bekerja, soalnya kupikir sekarang kan tidak ada orang
lain ini. Lalu mulai kuusap-usap tangannya, lalu ia menoleh padaq, kutatap
matanya dalam-dalam, sambil berkata dengan pelan, “ Cindy, aq cinta kamu.”
Ia tidak menjawab, tapi memejamkan matanya. Kupikir ini saatnya,
lalu pelan-pelan kukecup bibirnya sambil lidahku menerobos bertemu lidahnya.
Cindy pun lalu membalasnya sambil memkamukku erat-erat. Tanganku tidak tinggal
diam berusaha untuk meraba-raba buah dadanya, ternyata agak besar juga,
walaupun tidak sebesar punyanya bintang film porno. Cindy menggeliat seperti
cacing kepanasan, mendesah-desah menikmati rangsangan yang diterima pada buah
dadanya.
Kemudian aq berusaha membuka satu persatu kancing bajunya, lalu
kuremas-remas payudara yang masih terbungkus BRA itu.
“Aaaaahhh,
buka aja BH-nya Ton, cepat.., oohh..!”
Kucari-cari
pengaitnya di belakang, lalu kubuka. Wah, ternyata lumayan juga, masih padat
dan kencang, walaupun tidak begitu besar. Langsung kusedot-sedot putingnya
seperti anak bayi kehausan.
“Esshh..
ouww.. aduhh.. Ton.. terasa nikmat sekali lidahmu.., teruss..!”
Setelah
bosan dengan payudaranya, lalu kubuka skamuruh pakaiannya sampai bugil total.
Ia juga tidak mau kalah, lalu melepaskan semua yang kukenakan. Untuk sesaat
kami saling berpandangan mengagumi keindahan masing-masing. Lalu ia menarik
tanganku menuju ke kamarnya, tapi aq melepaskan pegangannya lalu menggendongnya
dengan kedua tanganku.
“Aouww
Ton, kamu romantis sekali..!” katanya sambil kedua tangannya menggelayut manja
melingkari leherku.
Kemudian
kuletakkan Cindy pelan-pelan di atas ranjangnya, lalu aq menindih tubuhnya dari
atas, untuk sesaat mulut kami saling pagut memagut dengan mesranya sambil
berpkamukan erat. Lalu mulutku mulai turun ke buah dadanya, kujilat-jilat
dengan lembut, Ayu mendesah-desah nikmat. Tidak lama aq bermain di dadanya,
mulutku pelan-pelan mulai menjilati turun ke perutnya, Cindy menggeliat
kegelian.
“Aduh
Ton, kamu ngerjain aq yah, awas kamu nanti..!”
“Tapi
kamu suka kan? Geli-geli nikmat..!”
“Udah
ah, jilati aja memek aq Ton..!”
“Oke
boss.., siap laksanakan perintah..!”
Langsung
saja kubuka paha lebar-lebar, tanpa menunggu lagi langsung saja kujilat-jilat
klitorisnya yang sebesar kacang kedele. Cindy menggoyang-goyangkan pinggulnya
dengan liar seakan-akan tidak mau kalah dengan permainan lidahku ini.
“Oohh
esshhh aaouuw uuhh teeruss.., lebih dalemm, oohhh.. nikmat sekali..!”
Agak
lama juga aq bermain di klitorisnya sampai-sampai terlihat banjir di sekitar
vaginanya.
“Ton,
masukkin aja titit kamu ke lobang aq, aq udah enggak tahan lagi..!”
Dengan
segera kuposisikan diriku untuk menembus kemaluannya, tapi ketika kutekan ujung
penisku, ternyata tidak mau masuk. Aq baru tahu ternyata dia masih perawan.
“Cindy,
apa kamu tidak menyesal perawan kamu aq tembus..?”
“Ton,
aq rela kalau kamu yang ngambil perawan aq, bagi aq di dunia ini cuma ada kita
berdua aja.”
Tanpa
ragu-ragu lagi langsung kutusuk penisku dengan kuat, rasanya seperti ada
sesuatu yang robek, mungkin itu perawannya, pikirku.
“Aduh
sakit Ton, tahan dulu..!” katanya menahan sakit.
Aq
pun diam sejenak, lalu kucium mulutnya untuk meredakan rasa sakitnya. Beberapa
menit kemudian ia terangsang lagi, lalu tanpa buang waktu lagi kutekan pantatku
sehingga batang kemaluanku masuk semuanya ke dalam lubangnya. “Pelan-pelan Ton,
masih sakit nih..!” katanya meringis.
Kugoyangkan
pinggulku pelan-pelan, lama kelamaan kulihat dia mulai terangsang lagi. Lalu
gerakanku mulai kupercepat sambil menyedot-nyedot puting susunya. Kulihat Cindy
sangat menikmati sekali permainan ini.
Tidak
lama kemudian ia mengejang, “Ton, aa.. aqu.. mau kkamuarr.., teruss.. terus..,
aahh..!”
Aq
pun mulai merasakan hal yang sama, “Ndy, aq juga mau kkamuar, di dalam atau di
luar..?”
“Kkamuarin
di dalem aja Sayang… ohhh.. aahh..!” katanya sambil kedua pahanya mulai
dijepitkan pada pinggangku dan terus menggoyangkan pantatnya.
Tiba-tiba
dia menjerit histeris, “Oohh… sshh… sshh… sshh…”
Ternyata
dia sudah kkamuar, aq terus menggenjot pantatku semakin cepat dan keras hingga
menyentuh ke dasar liang senggamanya.
“Sshh..
aahh..” dan, “Aagghh.. crott.. crott.. croot..!”
Kutekan
pantatku hingga batang kejantananku menempel ke dasar liang kenikmatannya, dan kamuarlah
spermaq ke dalam liang surganya.
Saat
terakhir air maniku kkamuar, aq pun merasa lemas. Walaupun dalam keadaan lemas,
tidak kucabut batang kemaluanku dari liangnya, melainkan menaikkan lagi kedua
pahanya hingga dengan jelas aq dapat melihat bagaimana rudalku masuk ke dalam
sarangnya yang dikelilingi oleh bulu kemaluannya yang menggoda. Kubelai
bulu-bulu itu sambil sesekali menyentuh klitorisnya.
“Sshh..
aahh..!” hanya desisan saja yang menjadi jawaban atas perlaqanku itu.
Setelah
itu kami berdua sama-sama lemas. Kami saling berpkamukan selama kira-kira satu
jam sambil meraba-raba.
Lalu
ia berkata kepadaq, “Ton, mudah-mudahan kita bisa bersatu seperti ini Ton, aq
sangat sayang pada kamu.”
Aq
diam sejenak, lalu kubilang begini, “Aq juga sayang kamu, tapi kamu mesti janji
tidak boleh meladeni paman aq kalo dia nyari-nyari kamu.”
“Oke
bossss, siap laksanakan perintah..!” katanya sambil memkamukku lebih erat.
Sejak
saat itu, kami menjadi sangat lengket, tiap malam minggu selalu kami bertingkah
seperti suami istri. Tidak hanya di apartmentnya, kadang aq datang ke tempat
kerjanya dan melaqkannya bersama di WC, tentu saja setelah semua orang sudah
pulang.
Kadang
ia juga ke tempat kerjaq untuk minta jatahnya. Katanya pamanku sudah tidak
pernah mencarinya lagi, soalnya tiap kali Cindy ditelpon, yang menjawabnya
adalah mesin penjawabnya, lalu tak pernah dibalas Cindy, mungkin akhirnya
pamanku jadi bosan sendiri. Aq Dengan Calon Istri Pamanku sering jalan-jalan ke
Mal-Mal, untungnya tidak pernah bertemu dengan pamanku itu. Sampai saat ini aq
masih jalan bersama, tapi ketika kutanya sampai kapan mau begini, ia tidak
menjawabnya. Aq ingin sekali menikahinya, tapi sepertinya ia bukan tipe cewek
yang ingin punya kkamuarga. Tapi lama-lama kupikir, tidak apalah, yang penting
aq dapat enaknya juga.
No comments:
Post a Comment