Cerita seks - Saya anak yang termasuk bergaul dengan pergaulan bebas, ketika masih duduk di bangku SMA saya menjalin kasih dengan teman sekolah saya. Ketika hubungan kami sampai di luar batas. Kami juga melakukan hal yang mestinya boleh dilakukan setelah ada ikatan resmi atau di sebut menikah.
Itu terjadi karena dalam keluargaku saya bungsu dan empat bersaudara kurang mendapat didikan dan perhatian dari kedua orang tua. Kedua orang tuaku sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Dan kami anak-anaknya dipercayakan kepada pembantu. Ayah dan ibu seolah berkewajiban hanya menyiapkan uang untuk berbagai kebutuhan. Tapi dari segi kasih sayang sama sekali tidak merasakan. Karena ayah dan ibu pulang rata-rata sudah larut malam. Untuk sekadar makan bersama atau kumpul keluarga saja boleh dikatakan hampir tak pernah.
Kondisi itu sepertinya tidak dipedulikan oleh ketiga kakakku,
dua pertama perempuan, dan ketiga laki-laki. Bisa jadi karena sudah biasa. Tapi
bagi saya (bungsu), sangat mendambakan belaian dan kasih sayang yang hangat
dari ayah dan ibu. Dan harapan itu sangat terasa saat menjelang tidur malam.
Ingin rasanya mendapat pelukan dan ciuman khususnya dari ibuku. Namun akhirnya
dari harapan kasih dari kedua orang tua yang tak kunjung tiba, membuat saya
menjadi terbiasa mandiri. Bahkan menjadikan saya perempuan tegar tidak cengeng.
Hampir semua persoalan hidup, saya hadapi dan coba selesaikan sendiri.
Akhirnya
dalam pergaulan untuk menghilangkan stres dan rasa penat di dalam rumah, sering
keluar jalan-jalan mencari hiburan nonton film ramai-ramai bersama teman atau
sekadar kongkow-kongkow hingga larut malam. Di dalam pergaulan ini saya
mengenal yang namanya obat-obatan dan mulai merokok. Sepertinya saat itu tidak
ada beban dan rasa bersalah dengan keputusan yang saya ambil itu.
Apalagi
ketiga kakakku juga tidak ada yang dapat sebagai panutan. Semua bersikap cuek.
Jadi yang kuperbuat ya sah-sah saja. Tidak ada yang melarang, apalagi
masing-masing (kakak-kakakku) punya kesibukan sendiri-sendiri. Yang pertama Kak
Intan, yang saat itu sedang kuliah asyik dengan kehidupannya sendiri bersama
sang pacar satu kampus.
Kak
Mira Kedua, kelakuannya juga tidak terlalu berbeda dengan Kak Intan. Di samping
kuliah juga terlalu asyik dengan pacarnya. Sementara Kak Niko (ketiga) memang
lebih liar dibanding kedua kakak perempuannya. Hampir tiap hari pulang larut
malam. Dan sekolahnya boleh dikatakan sudah drop. Kerjanya hanya main, dan
kalau siang tidur. Tiap hari minta uang kepada ayah, jika tidak diberi pindah
minta ke ibu. Ada saja alasan untuk kebutuhan. Saya sendiri sebagai adik sampai
berpikir mau jadi apa nanti Kak Niko itu.
Pernah
suatu hari, saya merasa kurang nikmat badan dan minta ijin pulang. Sampai di
rumah, di kamar kakakku Intan yang bersebelahan dengan kamarku terdengar suara
aneh, rintihan tapi disertai desahan. Yang sedianya pulang untuk istirahat,
dengan adanya suara itu saya penasaran mencari tahu. Kondisi rumah, jika siang
memang sepi. Karena semua kakakku dan aku pergi sekolah. Tinggallah pembantu
sendirian. Kadang kakak Intan memang kuliah siang. Seperti siang itu, Kak Intan
kuliah siang.
Saya
coba membuka pintu kamar Kak Intan, dalam benak saya siapa tahu sakit seperti
saya dan perlu pertolongan. Tapi pintu dikunci. Suara itu makin jelas, dan
sepertinya Kak Intan tidak sendirian. Nah saya mencoba mengintip lewat lubang
kunci. Degup jantungku bergetar keras dan kencang. Melihat adegan seni yang
saya ketahui, meski masih dalam khayalan dari membaca stensilan yang dipinjami
teman.
Cukup
goyah lututku menyaksikan keasyikan kakakku yang tanpa pembalut tubuh bergelut
dengan teman prianya. Perbuatan yang sebelumnya hanya saya khayalkan, kini
terpampang di depan mata disajikan oleh kakakku Intan. Cukup lama pergumulan
itu berlangsung. Dengan rasa tak tahan namun kepinginnya terus nonton, saya
masuk kamar dan rebahan. Suara kakaku dan teman prianya terus menggoda.
Akhirnya saya tidak lagi merasakan sakit, bahkan penyakit pusing itu lantas
hilang begitu saja.
Suara
desahan Kak Intan tidak kedengaran lagi, yang ada obrolan mereka berdua. Dan
mereka lantas berangkat kuliah. Tidak tahu jika saya pulang lebih awal dan
telah menyaksikan perbuatan bejatnya. Sayapun terus membayangkan kejadian yang
baru saja terjadi. Namun terhadap Kak Intan saya bersikap biasa, seolah tidak
tahu apa yang telah dilakukan dengan kekasihnya. Kepada ayah dan ibu saya juga
tidak bercerita, saya pikir apa pedulinya toh sepertinya kakak saya begitu
menikmati terlihat dan cara bermain dan pagutannya saat itu.
Sejak
kejadian itu, saya jadi sering bolos sekolah. Ingin mengulang menonton
‘pergulatan’ Kak Intan. Dengan cara mengendap-endap masuk rumah takut ketahuan
terus menyelinap masuk kamar. Namun harapan untuk mendapatkan tontotan menarik
seperti siang kemarin sia-sia. Karena teryata Kak Intan kuliah pagi.
Nah
saat saya dalam keadaan antara tertidur, terdengar sayup-sayup suara dua orang
sedang ngobrol di kamar sebelah, kamar Kak Mira (kakak kedua saya). Pikir saya
mereka baru pulang kuliah. Kamar Kak Mira memang bersebelahan dengan saya.
Kamar kami (cewek) bertiga berjejer, dan saya yang di tengah. Sementara kakak
laki-laki saya, Niko kamarnya di depan.
Kak
Mira pulang kuliah mengajak teman laki-laki ke rumah. Pertama obrolan itu soal
pelajaran. Namun lama-lama suara obrolan itu hilang, berganti suara desahan.
Saya kontan bangun dan mengendap-endap mencari lubang kunci. Dan setelah di
luar saya terkejut, karena pintu Kak Mira tidak ditutup dan terbuka cukup
lebar. Saya sendiri jadi serba salah, takut ketahuan. Tapi suara musik di kamar
Kak Mira membuat langkah dan gerakan saya tidak terdengar. Bahkan Kak Mira
sepertinya tidak peduli dengan pintu yang masih terbuka itu.
Setelah
mendapat posisi yang aman, saya mengamati dengan cermat gerakan demi gerakan
yang dilakukan Kak Mira bersama temannya. Terlihat mereka masih mengenakan
pakaian lengkap. Hanya saja rok Kak Mira mulai tersingkap, CD-nya terlihat.
Sementara Si pria masih lengkap dengan t-shirt dan celana jeans. Tapi pagutan
dan ciuman mereka berdua sepertinya membawa ke langkah yang makin seru.
Masing-masing berlomba melucuti pakaian lawannya. Hingga akhirmya keduanya
dalam kondisi telanjang. Cukup nanar dan gemetar juga saya menyaksikan adegan
itu. Dan adegan seperti itu pernah saya saksikan lewat film BF bersama
teman-teman usai sekolah, di rumah Linda (teman sekelas). Dan kedua saat
melihat Kak Intan sedang main dengan pacarnya. Namun saat nonton Kak Intan
kurang seru disamping lewat lubang kunci, shownya sudah setengah main.
Hari
ini sungguh berbeda, saya menyaksikan seluruh permainan dari awal. Sungguh
mendebarkan, Kak Mira meraih batang penis pacarnya, kemudian mulai
dikocok-kocok dengan perlahan. Terlihat batang penis pacar kakakku mulai tampak
membesar dan memanjang, sampai akhirnya dengan mata kepalaku sendiri aku
menyaksikan bagaimana batang penis yang tadinya layu kini telah berdiri dengan
kerasnya dan sangat panjang, mengundang hasrat birahiku untuk turut merasakan
kehangatan dan kedahsyatan penis pacar kakakku ini. Dengan penuh birahi kakakku
mulai mengulum batang penis dihadapannya, sementara tangannya tetap
mengocok-ngocok bagian tengah kebawah batang penis, kulihat tubuh pacar kakakku
berkelejat-kelejat dan dari mimik wajahnya seakan menahan serangan kenikmatan
yang datang bertubi-tubi di daerah sekitar batang kepala penisnya.
Pergulatan
Kak Mira dan temannya semakin seru, saling memagut, mendesah, memburu, dan
akhirnya saya lihat mereka berdua berada dalam permainan seks yang
menggairahkan saat teman kakakku mulai memasukkan batang penisnya yang panjang
kedalam vagina kakakku, kudengar kakakku mulai berteriak-teriak kecil dengan
disertai desahan-desahan penuh birahi, kuakui memang teman kakakku ini memiliki
stamina yang kuat sanggup bermain dalam satu jam dalam beberapa posisi yang
pernah kulihat dalam video seks kamasutra, kuhitung-hitung kakakku sudah
mengalami orgasme tiga kali dalam permainan tersebut, hingga pada akhirnya
kulihat teman kakakku menggenjot-genjotkan batang penisnya secara cepat, dan..,
tiba-tiba manarik batang penisnya dengan cepat dari vagina kakakku, dan
beberapa detik kemudian kulihat semprotan sperma begitu banyaknya dan akhirnya
teman kakakku mulai terkulai lemas dengan mandi keringat. Namun posisi mereka
tetap berpelukan.
Saya
pun dengan lemas dan gemetar masuk kamar. Namun pada saat menyaksikan adegan
pergumulan itu tidak terasa tangan saya seperti dibimbing meraba dan menyentuh
‘barang’ terlarang milik saya. Dengan tidak sadar tangan saya mengusap-usap
diantara selangkangan. Dan saya mendapatkan rasa kenikmatan. Sepertinya ada
cairan yang keluar dari dalam, dan saya tidak tahu apa yang keluar itu. Yang
ada rasa nikmat tiada tara saat itu.
Nah
perbuatan itu (mengusap kemaluan) saya lakukan di saat sendirian di dalam
kamar. Dan ternyata saya mendapat kenikmatan yang sama seperti saat sedang
nonton Kak Mira bercumbu. Bahkan perbuatan itu terus diulang-ulang. Rasa
penasaran pun makin menjadi-jadi, akhirnya saya ingin tahu bagaimana rasanya
berhubungan. Suatu saat, sebetulnya tidak sengaja. Saya bermaksud pinjam catatan
pelajaran kepada pacar, yang tidak sempat saya ikuti karena tidak masuk
sekolah. Kebetulan buku itu ada di rumah. Maka saya diajak ke rumahnya
mengambil buku itu.
Rumah
pacar saya siang itu sepi. Kedua orang tuanya bekerja, sementara pacar saya anak
satu-satunya. Yang ada di rumah hanya pembantu. Rumah itu cukup besar dan sepi.
Saya dipersilakan masuk, dan diajak ke kamarnya. Setelah diambilkan minum, kami
ngobrol. Pacar saya sepertinya telah berpengalaman dalam berpacaran. Terlihat
dan saat ngobrol tangannya mulai aktif meraba daerah sekwilda (sekitar wilayah
dada) milik saya. Namun anehnya saya menikmati, dan membiarkan tangan itu
menelusuri daerah sensitif saya.
Teringat
yang dilakukan pacar saya, seperti saat pacar Kak Mira melakukan hal yang sama.
Saya pun terlena dalam kenikmatan, seperti terbang diawang-awang. Dan akhirnya
perbuatan yang tadinya hanya dalam angan, kini kunikmati sungguhan. Kamipun
sudah dalam kondisi polos, suara mendesah bercampur degup kencang jantung ada
di dalam tubuhku. Saya pun rebah ditindih. Bukan sakit yang saya rasakan, tapi
kenikmatan. Dan akhirnya kami pun sampai batas ‘perburuan’, lemas, lunglai dan
bermandikan keringat. Untuk beberapa saat kami berpelukan, rasanya tidak ingin
melepas, malah inginnya mengulang lagi. Dan perbuatan itu kami ulang setiap ada
kesempatan. Sampai selesai sekolah diploma. Kamipun sebelum melakukan hubungan
sering menggunakan obat-obatan terlebih dulu. Dan ternyata berdampak makin
lebih nikmat dalam berhubungan. Hubungan kamipun lepas begitu saja, setelah
pacar dengan alasan meneruskan sekolah, pergi ke luar negeri.
Bagi
saya kepergian pacar saat itu tidak masalah. Toh dalam benak saya masih banyak
pria lain yang antri untuk bisa kencan denganku. Mengingat dan merasakan
pengalaman seks selama ini, banyak laki-laki yang mencoba mendekati saya dan
mengutarakan cinta. Saya saja yang agak jual mahal. Nah saat baru selesai
sekolah (diploma), sementara lagi kosong pacar tidak ada, saya banyak tinggal
di rumah. Kegiatan diisi dengan baca buku, dan baca apa saja. Paling kalau
jenuh, ke rumah teman ngobrol hingga malam, terus pulang langsung tidur.
Saat
pulang pukul 24.00 WIB, dan pintu rumah memang hampir tidak pernah terkunci,
saat buka pintu melewati depan kamar Kak Niko terdengar suara agak aneh. Ada
desahan suara tertahan, sementara ada pula suara cekikikan. Saya yakin di kamar
Kak Niko ada dua orang. Kebetulan saat itu ayah sedang tugas ke luar kota, dan
ibu ikut mendampinginya. Ruang depan memang sudah gelap, tapi ruang Kak Niko
terang, jadi cukup leluasa saya mencari tahu apa yang sedang dikerjakan
kakakku. Kebetulan Kak Niko tidak pernah menutup jendela kamarnya yang terletak
di dalam rumah. Dari jendela itu, saya mengendap mengintip. Dalam benak saya,
yang terjadi di dalam kamar sama dengan kejadian seperti Kak Intan dan Kak Mira
saat itu, ‘pergumulan’.
Benar
saja. Kakak saya dan teman wanitanya setengah baya ini (35-an) namun masih terlihat
cantik dan seksi sedang bergumul tanpa sehelai pakaian. Kak Niko terlihat
begita asyik mencumbu, dan tak henti-hentinya menciumi seluruh bagian
lekuk-lekuk tubuh si wanita. Si wanita menggelinjang, tertawa cekikikan di
antara desahan yang tertahan.
Cukup
lama permainan mereka itu berlangsung. Bahkan Si wanita sepertinya sudah tidak
tahan, menjerit-jerit kecil dan memohon kepada Kak Niko, “Please, please”,
katanya. Kak Niko sepertinya tidak peduli dengan kondisi wanita yang sudah
seperti cacing kepanasan. Dan akhirnya, mereka berdua bergumul saling mendekap
erat, berlomba mencapai perpaduan. Selesai sudah. tapi saya tidak lantas
beranjak dari posisi. Penasaran ingin tahu apa lagi yang akan diperbuat. Posisi
mereka telentang dan membiarkan tubuhnya terhampar tanpa pakaian. Tapi Si
wanita, masih menggelayut dan mencumbu. Kakak saya bersuara, “Bayar dulu”,
katanya.“Jangan khawatir”, jawab Si wanita. Dan Si wanita bangkit, berjalan gontai
menuju kursi belajar Kak Niko, di mana di situ terletak tasnya. Dari dalam tas
wanita itu mengeluarkan uang lima puluh ribuan, saya taksir sekitar satu juta.
Lantas
uang itu dilemparkan kepada Kak Niko.
“Bagaimana”, ucapan wanita itu. “Thanks darling”, jawab Kak Niko.
Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol tapi tangan masing-masing aktif menjamah daerah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Tidak perlu capai-capai pemanasan. Tapi saya melihat sebelum melakukan ‘pertempuran’ mereka berdua sepertinya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka terlihat lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak bisa terpejam.
“Bagaimana”, ucapan wanita itu. “Thanks darling”, jawab Kak Niko.
Dan wanita itu tidur rebahan di sebelah kakakku. Mereka ngobrol tapi tangan masing-masing aktif menjamah daerah sensitif lawan. Lama-lama mereka mulai terangsang lagi. Ronde kedua jelas tinggal nerusin. Tidak perlu capai-capai pemanasan. Tapi saya melihat sebelum melakukan ‘pertempuran’ mereka berdua sepertinya mengkonsumsi obat. Sehingga permainan mereka terlihat lebih seru dan panas. Dan sayapun lama-kelamaan tidak tahan, mundur dan masuk kamar. Namun mata ini tidak bisa terpejam.
No comments:
Post a Comment