Cerita Seks - Kalau aku ke Jakarta aku sering main ke rumahnya. Dan pada hari
Senin, aku ditugaskan oleh Firman untuk menjaga putri dan rumahnya karena ia
akan pergi ke Malang, ke rumah sakit untuk menjenguk saudara istrinya.
Menurutnya sakit demam berdarah dan dirawat selama 3 hari. oleh karena itu ia
minta cuti di kantornya selama 1 minggu. Ia berangkat sama istrinya, sedangkan
anaknya tidak ikut karena sekolah.
Setelah
3 hari di rumahnya, suatu kali aku pulang dari rumah kakakku, karena aku tidak
ada kesibukan apapun dan aku pun menuju rumah Firman. Aku pun bersantai dan
kemudian menyalakan VCD. Selesai satu film. Saat melihat rak, di bagian
bawahnya kulihat beberapa VCD porno. Karena memang sendirian, aku pun
menontonnya. Sebelum habis satu film, tiba-tiba terdengar pintu depan dibuka.
Aku pun tergopoh-gopoh mematikan televisi dan menaruh pembungkus VCD di bawah
karpet.
“Hallo,
Oom Ryan..!” Ratna yang baru masuk tersenyum.
“Eh, tolong dong bayarin Bajaj.. uang Ratna sepuluh-ribuan, abangnya nggak ada
kembalinya.”
Aku tersenyum mengangguk dan keluar membayarkan Bajaj yang cuma dua ribu
rupiah.
Saat
aku masuk kembali.., pucatlah wajahku! Ratna duduk di karpet di depan televisi,
dan menyalakan kembali video porno yang sedang setengah jalan. Mia memandang
kepadaku dan tertawa geli.
“Ih! Oom Ryan! Begitu, tho, caranya..? Rina sering diceritain temen-temen di
sekolah, tapi belon pernah liat.”
Gugup aku menjawab, “Ratna.. kamu nggak boleh nonton itu! Kamu belum cukup
umur! Ayo, matiin.”
“Aahh, Oom Ryan. Jangan gitu, dong! Tu, liat.. cuma begitu aja! Gambar yang
dibawa temen Rina di sekolah lebih serem.”
Tak
tahu lagi apa yang harus kukatakan, dan khawatir kalau kularang Ratna justru
akan lapor pada orangtuanya, aku pun ke dapur membuat minum dan membiarkan Rina
terus menonton. Dari dapur aku duduk-duduk di beranda belakang membaca majalah.
Sekitar jam 7 malam, aku keluar dan membeli makanan. Sekembalinya,
di dalam rumah kulihat Ratna sedang tengkurap di sofa mengerjakan PR, dan..
astaga! Ia mengenakan daster yang pendek dan tipis. Tubuh mudanya yang sudah
mulai matang terbayang jelas. Paha dan betisnya terlihat putih mulus, dan
pantatnya membulat indah. Aku menelan ludah dan terus masuk menyiapkan makanan.
Setelah
makanan siap, aku memanggil Ratna. Dan.., sekali lagi astaga.. jelas ia tidak
memakai BH, karena puting susunya yang menjulang membayang di dasternya. Aku
semakin gelisah karena penisku yang tadi sudah mulai “bergerak”, sekarang
benar-benar menegak dan mengganjal di celanaku.
Selesai
makan, saat mencuci piring berdua di dapur, kami berdiri bersampingan, dan dari
celah di dasternya, buah dadanya yang indah mengintip. Saat ia membungkuk,
puting susunya yang merah muda kelihatan dari celah itu. Aku semakin gelisah.
Selesai mencuci piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.
“Oom,
ayo tebak. Hitam, kecil, keringetan, apaan..!”
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Gantian..
putih-biru-putih, kecil, keringetan, apa..?”
Mia mengernyit dan memberi beberapa tebakan yang semua kusalahkan.
“Yang bener.. Rina pakai seragam sekolah, kepanasan di Bajaj..!”
“Aahh.. Oom Ryan ngeledek..!”
Mia meloncat dari sofa dan berusaha mencubiti lenganku. Aku menghindar dan
menangkis, tapi ia terus menyerang sambil tertawa, dan.. tersandung!
Ia
jatuh ke dalam pelukanku, membelakangiku. Lenganku merangkul dadanya, dan ia
duduk tepat di atas batang kelelakianku! Kami terengah-engah dalam posisi itu.
Bau bedak bayi dari kulitnya dan bau shampo rambutnya membuatku makin
terangsang. Dan aku pun mulai menciumi lehernya. Ratna mendongakkan kepala
sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya.
Nafas
Ratna makin terengah, dan tanganku pun masuk ke antara dua pahanya. Celana
dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.. mmhh..” Rina menggelinjang.
Kesadaranku yang tinggal sedikit seolah memperingatkan bahwa yang sedang
kucumbu adalah seorang gadis SMP, tapi gariahku sudah sampai ke ubun-ubun dan
aku pun menarik lepas dasternya dari atas kepalanya.
Aahh..! Rina menelentang di sofa dengan tubuh hampir polos!
Aku
segera mengulum puting susunya yang merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan
hingga dadanya basah mengkilap oleh ludahku. Tangan Ratna yang mengelus belakang
kepalaku dan erangannya yang tersendat membuatku makin tak sabar. Aku menarik
lepas celana dalamnya, dan.. nampaklah bukit kemaluannya yang baru ditumbuhi
rambut jarang. Bulu yang sedikit itu sudah nampak mengkilap oleh cairan
kemaluan Ratna. Aku pun segera membenamkan kepalaku ke tengah kedua pahanya.
“Ehh..
mmaahh..,” tangan Ratna meremas sofa dan pinggulnya menggeletar ketika bibir
kemaluannya kucium.
Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan mengemut perlahan.
“Ooohh.. aduuhh..,” Ratna mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di
antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat.
Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka.
Sesekali lidahku akan membelai kelentitnya dan tubuh Ratna akan terlonjak dan
nafas Ratna seakan tersedak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit
dadanya. Putingnya sedikit membesar dan mengeras.
Ketika aku berhenti menjilat dan mengulum, Ratna tergeletak
terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aku membuka semua pakaianku, dan
kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ratna.
“Mmmhh.. mmhh.. oohhmm..,” ketika Ratna membuka bibirnya, kujejalkan kepala
kemaluanku.
Mungkin film tadi masih diingatnya, jadi ia pun mulai menyedot. Tanganku
berganti-ganti meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
Segera
saja kemaluanku basah dan mengkilap. Tak tahan lagi, aku pun naik ke atas tubuh
Ratna dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Rina dan
aroma kemaluan Ratna di mulutku, bertukar saat lidah kami saling membelit.
Dengan
tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ratna, dan
sebentar kemudian kurasakan tangan Ratna menekan pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam.. msuk.. hh.. msukin.. Omm.. hh.. ehekmm..”
Perlahan kemaluanku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Ratna
semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku kutekan, tetapi gagal
saja karena tertahan sesuatu yang kenyal. Aku pun berpikir, apakah lubang
sekecil ini akan dapat menampung kemaluanku yang besar ini. Terus terang saja,
ukuran kemaluanku adalah panjang 15 cm, lebarnya 4,5 cm sedangkan Rina masih
SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlalu kecil.
Tetapi
dengan dorongan nafsu yang besar, aku pun berusaha. Akhirnya usahaku pun
berhasil. Dengan satu sentakan, tembuslah halangan itu. Ratna memekik kecil,
dahinya mengernyit menahan sakit. Kuku-kuku tangannya mencengkeram kulit
punggungku. Aku menekan lagi, dan terasa ujung kemaluanku membentur dasar
padahal baru 3/4 kemaluanku yang masuk. Lalu aku diam tidak bergerak,
membiarkan otot-otot kemaluan Rina terbiasa dengan benda yang ada di dalamnya.
Sebentar
kemudian kernyit di dahi Ratna menghilang, dan aku pun mulai menarik dan
menekankan pinggulku. Ratna mengernyit lagi, tapi lama kelamaan mulutnya
menceracau.
“Aduhh.. sshh.. iya.. terusshh.. mmhh.. aduhh.. enak.. Oomm..”
Aku merangkulkan kedua lenganku ke punggung Rina, lalu membalikkan kedua tubuh
kami hingga Ratna sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak 3/4 kemaluanku
menancap di kemaluannya. Tanpa perlu diajarkan, Ratna segera menggerakkan
pinggulnya, sementara jari-jariku berganti-ganti meremas dan menggosok dada,
kelentit dan pinggulnya, dan kami pun berlomba mencapai puncak. Lewat beberapa
waktu, gerakan pinggul Ratna makin menggila dan ia pun membungkukkan tubuhnya
dan bibir kami berlumatan. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya
pinggulnya menyentak berhenti. Terasa cairan hangat membalur seluruh batang
kemaluanku.
Setelah
tubuh Ratna melemas, aku mendorong ia telentang. Dan sambil menindihnya, aku
mengejar puncakku sendiri. Ketika aku mencapai klimaks, Ratna tentu merasakan
siraman air maniku di liangnya, dan ia pun mengeluh lemas dan merasakan
orgasmenya yang ke dua.
Sekian
lama kami diam terengah-engah, dan tubuh kami yang basah kuyup dengan keringat
masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.
“Aduh, Oom.. Ratna lemes. Tapi enak banget.
Aku hanya tersenyum sambil membelai rambutnya yang halus. Satu tanganku lagi
ada di pinggulnya dan meremas-remas. Kupikir tubuhku yang lelah sudah
terpuaskan, tapi segera kurasakan kemaluanku yang telah melemas bangkit kembali
dijepit liang vagina Ratna yang masih amat kencang.
Ke kamar melanjutkan babak berikutnya. Sepanjang malam aku
mencapai tiga kali lagi orgasme, dan Ratna.. entah berapa kali. Begitupun di
saat bangun pagi, sekali lagi kami bergumul penuh kenikmatan sebelum akhirnya
Ratna kupaksa memakai seragam, sarapan dan berangkat ke sekolah.
Kembali
ke rumah Firman, aku masuk ke kamar tidur tamu dan segera pulas kelelahan. Di
tengah tidurku aku bermimpi seolah Ratna pulang sekolah, masuk ke kamar dan
membuka bajunya, lalu menarik lepas celanaku dan mengulum kemaluanku. Tapi
segera saja aku sadar bahwa itu bukan mimpi, dan aku memandangi rambutnya yang
tergerai yang bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang naik-turun. Aku melihat
keluar kamar dan kelihatan VCD menyala, dengan film yang kemarin. Ah! Merasakan
caranya memberiku “blowjob”, aku tahu bahwa ia baru saja belajar dari VCD.
No comments:
Post a Comment