Cerita Seks - Perpisahan yang sungguh berat, terutama bagiku; mungkin bagi
tante U, hal itu sudah biasa karena hubungan sex buat dia hanya merupakan suatu
kebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnya denganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya, karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut dan mencintainya. Sejak aku mengenal tante U, aku mulai mengenal beberapa wanita teman tante U, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku. Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante H; dan tante A seorang janda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante U ke Medan, merekalah yang menjadi teman kencanku. Karena tante H dan tante A sudah berstatus janda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.
kebutuhan biologis semata, tanpa melibatkan perasaan. Namun lain halnya denganku, aku sempat merasa kesepian dan rindu yang amat sangat terhadapnya, karena sejak pertama kali aku tidur dengannya, hatiku sudah terpaut dan mencintainya. Sejak aku mengenal tante U, aku mulai mengenal beberapa wanita teman tante U, mereka semuanya sudah berkeluarga dan usianya lebih tua dariku. Wanita lain yang sering kutiduri adalah tante H; dan tante A seorang janda cina yang cantik. Jadi semenjak kepindahan tante U ke Medan, merekalah yang menjadi teman kencanku. Karena tante H dan tante A sudah berstatus janda, maka tak ada ke-sulitan bagi kami untuk mengatur kencan kami.
Hampir
setiap hari aku menginap di rumah tante H, dengan tante H boleh dikata setiap
hari aku melakukan hubungan intim tidak mengenal waktu, dan tempat. Pagi, siang
sore atau malam, di kamar, di ruang tamu, di dapur bahkan pernah di teras
belakang rumahnya.Teradang kami main bertiga, yakni aku, tante H dan tante A.
Di rumah tante H benar-benar diperas tenagaku. Sesekali waktu aku harus
melayani temen tante H yang datang ke sana untuk menghisap tenaga mudaku. Aku
sudah nggak peduli lagi rupanya aku dijadikan gigolo oleh tante H. Pokoknya
asal aku suka mereka, maka langsung kulayani mereka.
Suatu
saat aku bertemu dengan seorang gadis. Cantik dan sexy banget bodynya. Dian
namanya temen adik perempuanku. Dengan keahlianku, maka kurayu dan kupacari
Dian. Suatu hari aku berhasil mengajaknya jalan-jalan ke suatu tempat rekreasi.
Di suatu motel akhirnya aku berhasil menidurinya, Aku agak kecewa, rupanya Dian
sudah nggak perawan lagi. Namun perasaan itu aku pendam saja. Kami tetap
melanjutkan hubungan, dan setiap kali bertemu maka kami selalu melakukan
hubungan badani.
Rupanya
Dian benar-benar ketagihan denganku. Tak malu-malu dia mencariku, dan bila
bertemu langsung memintaku untuk menggaulinya. Tapi aneh, Dian tak pernah
menga-jakku bahkan melarang aku datang ke rumahnya. Kami biasa melakukan di
motel atau hotel melati di kotaku, beberapa kali aku mengajak Dian ke rumah
tante H. Kuperkenal-kan tante H sebagai familiku, dan tentunya aku tak mau
menyia-nyiakan kesempatan untuk bercumbu dengannya di kamar yang sering aku dan
tante H gunakan bercumbu. Klik Judi Online.
Suatu
hari, entah kenapa tiba-tiba Dian memintaku untuk main ke rumahnya, katanya dia
berulang tahun. Dengan membawa seikat bunga dan sebuah kado aku ke rumahnya.
Aku pencet bel pintu dan Dian yang membukakan pintu depan. Aku dipersilahkan
duduk di ruang tamu. Segera Dian bergegas masuk dan memanggil mamanya untuk
diperkenalkan padaku. Aku terkejut dan tergugu melihat mamanya; sebab perempuan
itu.. ya.. mamanya Dian sudah beberapa kali tidur denganku di rumah tante H.
Mama Dian nam-pak pias wajahnya namun segera mama Dian bisa cepat mengatasi
keadaan. Mama Dian berlagak seolah-olah tak mengenalku, padahal seluruh bagian
badannya sudah pernah kujelajahi. Beberapa saat mama Dian menemani kami
ngobrol. Dengan sikap tenangnya akupun menjadi tenang pula dan mampu mengatasi
keadaan. Kami ngobrol sambil bercanda, dan nampak terlihat bahwa mama Dian
benar-benar seorang Ibu yang sayang pada putri tunggalnya itu.
Keesokan
harinya, mama Dian menemuiku. Di ruang tamu rumah tante H mama Dian
menginterogasiku, ingin tahu sudah sejauh mana hubunganku dengan Dian. Aku tak
mau segera menjawab, tanganku segera menarik tangannya dan menggelandang
tubuhnya ke kamar. Dia berusaha melepaskan peganganku, namun sia-sia tanganku
kuat mencekal, sehingga tak kuasa dia melepaskan tangannya dari genggamanku.
Kukunci pintu kamar dan segera aku angkat dan rebahkan tubuhnya di atas kasur.
Segera kulucuti pakaianku hingga aku telanjang bulat, dan segera kutindih
tubuhnya. Dia meronta dan memintaku untuk tak menidurinya; namun permintaanya
tak kuindahkan. Aku terus mencumbunya dan satu persatu pakaiannya aku lucuti,
dan akhirnya aku berhasil memasukkan kontolku di vaginanya. Begitu penisku
melesak masuk, maka mama Dian bereaksi, mulai memba-las dan mengimbangi
gerakanku. Akhirnya kami berpacu mengumbar nafsu, sampai akhirnya mama Dian
sampai pada puncak kepuasan.
Peluhku
bercucuran menjatuhi tubuh mama Dian, kuteruskan hunjaman kontolku di
memeknya.. Mama Dian mengerang-erang keenakkan, sampai akhirnya orgasme kedua
dicapainya. Aku terus genjot penisku, aku bener-bener kesal dan marah padanya,
karena aku tahu dengan kejadian itu maka bakalan usai hubunganku dengan Dian,
pada-hal cinta mulai bersemi dihatiku.
Sambil
terus kugenjot kontolku di memeknya, kukatakan padanya bahwa Dian juga sudah
sering aku tiduri, namun aku sangat mencintai, menyayangi bahkan ingin menika-hinya.
Aku katakan semua itu dengan tulus, sambil tak terasa air mataku menetes.
Akhirnya dengan hentakan yang keras aku mengejan kuat, menumpahkan segala rasa
yang aku pendam, menumpahkan seluruh air maniku ke dalam memeknya. Badanku
tera-sa lemas, kupeluk tubuh mama Dian sambil sesenggukan menangis di dadanya.
Air mata-ku mengalir deras, mama Dian membelai kepalaku dengan penuh rasa
sayang; kemudian dikecup dan dilumatnya bibirku.
Tubuhku
berguling telentang di samping kanan tubuhnya, mama Dian merangkul tubuh-ku
menyilangkan kaki kiri dan meletakkan kepalanya didadaku. Terasa memeknya
hangat dan berlendir menempel diperutku, tangan kirinya mngusap-usap wajahku.
Tak henti-hentinya mulutnya menciumku.
Sambil
bercumbu aku ceritakan semua kisah romanceku, hingga aku sampai terlibat dalam
pergaulan bebas di rumah tante H. Dengan sabar didengarnya seluruh kisahku,
sesaat kemudian kembali penisku menegang keras. Segera tanganku bergerilya
kembali di memeknya, selanjutnya kembali kami berpacu mengumbar nafsu kami. Kami
bercumbu benar-benar seperti sepasang pengantin baru saja layaknya. Seolah tak
ada puasnya. Sampai akhirnya kami kembali mencapai puncak kepuasan beberapa
kali.
Setelah
babak terakhir kami selesaikan, mama Dian bangkit dan menggandengku menuju
kamar mandi, kami mandi berendam bersama di kamar mandi sambil bercumbu. Sambil
berendam kami bersenggama lagi. Setelah puas kami menumpahkan hasrat kami, kami
keringkan tubuh kami dan segera berpakaian. Nampak sinar puas membias di wajah
mama Dian.
Dengan
bergandeng tangan kami keluar kamar, kupeluk pinggangnya dan kuajak menuju ke
ruang tamu. Kami duduk berdua, kemudian berbincang mengenai kelanjutan
hubunganku dengan Dian. Mama Dian ingin agar hubunganku dengan Dian diakhiri
saja, walaupun kami sudah begitu jauh berhubungan, sekalipun Dian sudah hamil
karenaku. Dia memberikan pandangan tentang bagaimana mungkin aku menikahi Dian,
sedangkan aku dan mama Dian pernah berhubungan layaknya suami istri, sebab
bagaimanapun kami akan tinggal serumah. Bagaimana mungkin kami melupakan begitu
sqaja affair kami; rasanya tak mungkin. Klik Casino online.
Aku
bisa mengerti dan menerima alasan mama Dian, namun aku bingung bagaimana cara
menjelaskan kepada Dian. Aku tak sanggup kalau harus memutuskan Dian. Akhirnya
aku ideku pada mama Dian. Selanjutnya selama beberapa hari aku tak mene-muidan
sengaja menghindari Dian. Mamanya memberitahu kalau Dian saat ini dalam keadaan
hamil 2 bulan akibat hubungannya denganku.
Pada
suatu hari, aku di telepon mama Dian. Dia memberitahu kalau Dian sedang menuju
ke rumah tante H untuk menca-ri aku. Aku sudah tahu apa yang harus aku lakukan,
saat itu tante H sedang menyiram tanaman kesayangannya di kebun belakang.
Segera kuhampiri dia dan aku ajak ia ke kamar yang biasa aku dan Dian pakai
untuk berkencan.
Kulucuti
seluruh pakaian tante H dan juga pakaianku sendiri, selanjutnya kami
bersenggama seperti biasanya. Tak berapa lama Dian datang dan langsung menuju
ke kamarku. Terdengar pekik tertahan dari mulut-nya saat melihat adegan di atas
ranjang; dimana aku dan tante H sedang asyik bersenggama. Terdengar pintu kamar
dibanting, Dian pulang ke rumah dengan hati yang amat terluka. Tante H merasa
tak tega dengan kejadian itu, tante H memintaku untuk segera menyusul Dian;
namun tak kuhiraukan; bahkan aku semakin keras dan cepat menghentakan penisku
di memeknya. Tante H mengerang-erang keenakan, mengimbangi dengan gerakan yang
membuat penisku semakin cepat berdenyut. Kami mencapai orgasme hampir bersama,
aku berguling dan menghempaskan badanku ke samping tante H. Mataku menerawang
jauh menatap langit-langit kamar, air mataku bergulir membasahi pipiku. Inilah
akhir hubunganku dengan Dian, akhir yang amat menyakitkan. Dian pergi dariku
dengan membawa benih anaku di rahimnya.
Musnah
sudah impian dan harapanku untuk membina rumah tangga dengannya. Tante H
menghiburku; Dia mengingatkan aku bahwa aku sudah membuat keputusan yang benar.
Jadi tak perlu disesali. Didekapnya tubuhku, aku menyusupkan mukaku ke dada
tante H; ada suatu kedamaian disana; kedamaian yang memabukkan; yang membangkitkan
hasrat kelelakianku lagi. Sessat kemudian kami berpacu lagi dengan hebat,
hingga beberapa kali tante H mencapai puncak kepuasan. Aku memang termasuk tipe
pria hypersex dan mampu mengatur timing orgasmeku, sehingga setiap wanita yang
tidur denganku pasti merasa puas dan ketagihan untuk mengulangi lagi denganku.
Beberapa
hari kemudian aku terima telepon Dian, sambil terisak Dian pamit padaku karena
dia dan mamanya akan pindah ke Surabaya. Aku minta alamatnya, tapi Dian
keberatan. Dari nada suaranya nampak Dian sudah tidak marah lagi padaku; maka
aku memohon padanya untuk terakhir kali agar dapat aku menemuinya. Dian
mengijinkan aku menemuinya di rumahnya, segera aku meluncur ke rumahnya untuk
Inilah saat terakhir akku berjumpa dengan kekasihku.
Kupencet
bel pintu, mama Dian membuka pintu dan menyilahkan aku masuk. Nampak wajahnya
masih berbalut duka dan kesedihan, dia amat merasa bersalah karena menjadi
penyebab hancurnya hubunganku dengan Dian. Mama Dian menggandengku menuju ruang
keluarga, nampak Dian kekasihku duduk menungguku.
Melihat
aku Dian bangkit dan menghampiri aku, tak kusangka pipiku ditamparnya dengan
keras. Kubiarkan saja agar rasa kesal dan tertekan dihatinya terlampiaskan.
Dian berdiri bengong setelah menamparku, dilihat tangan dan pipiku bergantian
seolah tak percaya akan apa yang dia lakukan. Tiba-tiba ditubruk dan dipeluknya
badanku, dibenamkan mukanya ke dadaku sambil sesenggukan menumpahkan tangisnya.
Aku peluk tubuhnya dan kuelus rambut-nya.
Agak
lama kami demikian; kami menyadari bahwa saat inilah saat terakhir bagi kami
untuk bertemu. Mama Dian mendekat dan merangkul kami berdua, dan membimbing
kami untuk duduk di kursi panjang. Kami bertiga duduk sambil berpelukan, mama
Dian ditengah; kedua tangannya memeluk kami berdua.
Akhirnya
kesunyian diantara kami terpecahkan dengan ucapan mama Dian. Mama Dian
mengatakan memberi kesempatan pada kami untuk memutuskan, apakah akan kami
lanjutkan hubungan kami atau kami putuskan sampai disini saja.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berarti aku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkan keputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku, Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kan tetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasih sayangnya.
Berat sekali rasanya, jika kami teruskan hubungan kami maka berarti aku memisahkan jalinan kasih ibu dan anak tunggalnya ini. Aku menyerahkan keputusan akhir pada Dian. Sambil terisak Dian akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, saat kuingatkan bahwa dirahimnya ada benih anakku, Dian menjawab biarlah.., ini sebagai tanda cinta kasih kami berdua.., Dian kan tetap memelihara kandungannya dan akan membesarkan anak itu dengan kasih sayangnya.
Beberapa
saat kemudian aku berpamitan, dengan berat Dian melepaskan pelukanku, namun
sebelum kami berpisah sekali lagi Dian memintaku untuk menemaninya. Ditariknya
aku ke kamarnya dan dengan penuh kasih sayang, dibukanya pakaianku dan pakaian
yang melekat di tubuhnya. Kami berdiri berpelukan dnegan tanpa sehelai benang
menempel pada tubuh kami.
Kucumbui
Dian kekasihku untuk terakhir kalinya, aku genjot penisku di memeknya dengan
lembut dan penuh perasaan, aku khawatir kalau-kalau genjotanku akan
menyakit-kan anakku yang ada dirahimnya. Semalam kami bercengkerama, pada pagi
keesokan harinya aku berpamitan. Dengan perasaan yang amat berat dilepas
kepergianku, aku berpamitan pula pada mama Dian, aku cium punggung tangannya
sebagai tanda kasih anak ke ibunya, ditengadahkan mukaku dan dikecupnya
keningku dengan penuh rasa sayang. Aku menitipkan anakku pada Dian dan mohon
padanya agar memberi kabar saat kelahirannya nanti. Sampai disitulah akhir
hubunganku dengan Dian dan mamanya.
Beberapa
hari setelah perpisahanku dengan Dian, aku merasa sepi dan sedih. tante H yang
senantiasa menghiburku, dengan gurauan, kemolekan, kehangatan tubuhnya, dan
dengan kasih sayangnya Terkadang di dalam kesendirianku, aku terngat tante U,
dengan segala kehangatan tubuhnya. Aku teringat moment-moment yang pernah kami
jalani di salah satu kamar di rumah tante H.
Di
salah satu kamar di rumah tante H itulah kami biasa mengumbar nafsu kami,
saling menumpahkan rasa rindu kami, sudah tak terhitung lagi barapa banyak aku
menyengga-mainya menumpahkan segenap rasa dan nafsuku, dan sebanyak itu kami
berhubungan tak pernah sekalipun kami menggunakan alat kontrasepsi, baik itu
kondom, spriral, tablet atau sebangsanya. Jadi kami melakukannya secara alami
saja, dan tentunya dapat dibayangkan akibatnya. Yach.. tante U pergi dengan
membawa banyak kenangan indahku, membawa cintaku dan membawa pula janin dari benih
yang kutanam di rahimnya..
Awal
semester pertama sudah berjalan 2 bulan lebih 5 hari, jadi tak terasa aku sudah
menempati rumah petak kontrakanku selama itu. Setiap hari aku berjalan kaki ke
tempat kuliah, yang memang tak jauh dari rumah kontrakanku.
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewati sebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya 3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Rani dan Kak Rina, sedangkan si bungsu Yanti masih SMA kelas 1 (baru masuk).
Setiap kali aku berangkat atau pulang kuliah, aku selalu melewati sebuah rumah yang dihuni satu keluarga dengan dua anak perempuannya, sebenarnya 3 orang anaknya dan perempuan semuannya. Dua sudah berkeluarga, yaitu Kak Rani dan Kak Rina, sedangkan si bungsu Yanti masih SMA kelas 1 (baru masuk).
Kak
Rani dan Kak Rina anak kembar, hanya saja nasib Kak Rani lebih baik ketimbang
Kak Rina. Kak Rani bersuamikan pegawai Bank dan sudah memiliki rumah serta dua
anak perempuan, sedangkan Kak Rina bersuamikan seorang pengemudi box kanvas
suatu perusahaan dan belum dikarunia anak, serta masih tinggal bersama ibunya.
Bu Maman seorang janda yang baik hati dan sayang benar sama cucunya, yaitu anak
Kak Rani.
Pada
mulanya aku berkenalan dengan Yanti, Yanti termasuk gadis yang agresif dan aku
juga sudah mendengar cukup banyak tentang petualangan cintanya sejak dia duduk
di bangku SMP, jadi masalah sex buat Yanti bukan hal yang baru lagi.
Perkenalanku
terjadi saat aku pulang kuliah sore hari, dimana hujan turun cukup lebat. Pada
saat aku berjalan hendak memasuki mulut gang, berhentilah sebuah angkot dan
ternyata yang turun Yanti dengan seragam SMAnya.
Aku
menawarinya berpayung bersama dan ternyata dia mau. Kuantar Yanti sampai
rumahnya, setiba di rumahnya dipersilahkannya aku masuk dan duduk di ruang
tamu, sementara dia masuk berganti pakaian. Saat aku menunggu Yanti, Kak Rina
keluar dengan membawa secangkir teh hangat dan kue. Mulutku secara tak sadar
ternganga melihat kecantikan Kak Rina. Mata nakalku tak henti melirik dan
mencuri pandang padanya. Padahal Kak Rina hanya berpakaian sederhana, hanya
mengenakan daster motif bunga sederhana, namun kecantikannya tetap nampak.
Kulitnya yang putih kekuningan dan badannya yang segar dengan buah dada yang
menonjol, semakin menambah kecan-tikan penampilannya sore itu.
Melihatku
dia tersenyum, nampak sebaris gigi putih yang bersih berjajar. Aku tergagap dan
segera kuulurkan tangan untuk berkenalan dengannya. Hangat tengannya dalam
genggamanku, dan sambil menunggu Yanti selesai berganti pakaian dia menemaniku
ngobrol. Dalam obrolan ku dengan Kak Rina sore itu, baru kutahu kalau Kak Rina
sering melihatku saat aku berjalan berangkat dan pulang kuliah. Itulah hari
pertamaku berke-nalan dengan keluarga Yanti.
Pagi
esok harinya, saat aku berangkat kuliah, aku bertemu Kak Rina di mulut gang.
Kami bersalaman, tiba-tiba timbul kenakalanku, kugelitik telapak tangan Kak
Rina saat kugeng-gam, ternyata dia diam saja bahkan senyum padaku. Sejenak kami
berbasa-basi bicara, kemudian aku cepat bergegas kuliah.
Sore
hari aku baru pulang kuliah, langit mendung tebal sepertinya mau hujan. Saat
kubuka pintu rumah, kulihat Yanti dan teman kostku sedang ngobrol di ruang
tamu., rupanya dia sengaja datang untukku. Tak lama kemudian temen kostku pamit
mau kuliah sore sampai jam 19.00 WIB. Setelah aku berganti pakaian kutemui
Yanti dan kami ngobrol berdua. Tiba-tiba aku teringat bahwa Yanti belum
kusuguhi minum, cepat-cepat aku permisi ke dapur untuk membuat minuman buatnya.
Saat aku beranjak ke dapur Yanti mengikutiku dari belakang, dan di dapur kami
lanjutkan obrolan kami sambil kuteruskan membuat minuman.
Yanti
berdiri bersandar meja dapur, aku mendekatinya dan iseng kupegang tangannya.
Agaknya Yanti memang mengharap suasana demikian, dia tanggapi pegangan tanganku
dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuhku, sehingga muka kami berjarak cuman
beberapa senti saja. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajahku. Kesempatan itu
tak kubiarkan lewat begitu saja, segera aku sambar pinggangnya dan kucium lumat
mulutnya.
Kami
berciuman agak panjang, lidah kami saling beradu dan memilin, sementara sigap
tanganku menggerayangi dan meremas pantat Yanti. Tanganku tidak berhenti, terus
bergerak menyingkap bagian depan roknya, dan segera tanganku mengelus-elus
memek Yanti yang masih tertutup celana tipis, sementara itu mulutku menjalar
dan menciumi lehernya. Yanti merintih lembut, dan semakin mempererat
pelukannya.
Tangan
kananku yang sudah terlatih segera melepas kancing depan bajunya, selanjutnya
meremas-remas buah dadanya, kulepas tali Bhnya dan segera kujelajahi dua bukit
kembarnya yang sudah mengeras. Kuhisap lembut puting susunya, Yanti semakin
menekan kepalaku ke dadanya.
Aku
sudah tahu apa yang dikehendakinya, segera kutarik dia ke kamarku, dan segera
kubuka resleting roknya, kulepas bajunya kemudian BHnya. Nampak tubuh Yanti
polos tak tertutup kain, hanya CD tipisnya saja yang tinggal melekat di
badannya. Segera kuhujani Yanti dengan ciuman, kujilati sekujur tubuhnya, kuhisap
puting susunya, dan terus mulutku bergerak ke bawah, sambil pelan-pelan
tanganku melepas CD-nya.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilati memeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Yanti merintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehingga kami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semua pakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknya pelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.
Begitu CD-nya lepas segera kuserbu memeknya, lidahku menjilati memeknya, sementara kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang bulat penuh. Yanti merintih dan mengerang, dan sesaat kemudian ditariknya bahuku ke atas, sehingga kami berdiri berhadapan. Segera dilepas kancing bajuku, dan dilepasnya semua pakaianku. Sambil membungkukan badan dihisap kontolku, dijilati dan dikocoknya pelan.. Ohh.. sungguh nikmat tak terbayang.
Segera
kudorong tubuhnya terlentang di atas dipan dan lidahku terus bergerilya di
memeknya, juga ke dua jari tanganku ikut pula menjelajahi memeknya, ke dua
pahanya mengangkang lebar dan nampak lobang memeknya sepertinya siap melahap
kontolku bulat-bulat. Yanti mengerang-ngerang dan memintaku segera memasukkan
kontol ke dalam memeknya. Mas.. ayo.. masukkan.. ayo maas..
Hujan
di luar turun dengan deras, suara hujan mengalahkan erangan dan teriakan Yanti,
sehingga aku tak khawatir orang akan mendengar suaranya. Kubiarkan Yanti dalam
keadaan begitu, sambil lidahku terus menjilati memeknya. Yanti merintih dan
mengerang.. sambil menghiba untuk segera memulai permainan kami. Bau memeknya,
semakin membangkitkan gairahku, dan akhirnya akupun tak tahan..
Segera
kutindih tubuhnya dan kebenamkan kontolku dimemeknya dengan satu sentakan yang
sedikit agak keras. Segera kukocok memeknya dengan cepat dan keras. Yanti
mengerang, merintih dan mengimbangi gerakan keluar masuk kontolku dengan pas..,
sehingga kadang terasa kontolku bagai dihisap dan diremas di dalam memeknya.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku; segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dan kumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku, tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkan lagi dalam memek Yanti.
Terasa kontolku berdenyut-denyut, sepertinya hendak keluar air maniku; segear kuhentikan gerakan kontolku dan segara kucabut. Kugeser tubuhku dan kumasukan penisku ke dalam mulutnya. Segera dihisap dan dikulumnya penisku, tanpa rasa jijik. Setelah agak berkurang denyutan penisku, segera kubenamkan lagi dalam memek Yanti.
Bukan
main, remasan dan sedotan memek Yanti. Aku jadi mengerti sekarang beda antara
memek seorang wanita yang masih gadis dan belum pernah melahirkan dengan wanita
yang sudah melahirkan seperti tante U. Kubalik tubuh Yanti dan kuangkat
pantatnya agak tinggi, sehingga Yanti dalam posisi nungging. Segera kutancapkan
penisku ke memeknya dari belakang. Lagi-lagi Yanrti mengerang-erang kadang
menjerit kecil Tiba-tiba diangkat dan diputar badannya ke belakang, serta di
raihnya kepalaku serta diciumnya mulutku, sementara penisku tetap bekerja
keluar masuk memeknya.
Berapa
saat kemudian kuganti posisi, aku berbaring terlentang dan Yanti menindih
tubuhku. Dipegang dan dibimbingnya penisku masuk ke vaginanya, dan segera
digoyang badanya naik turun di atas tubuhku. Kuremas payu daranya dan
kuhentakan pantatku ke atas, saat badan Yanti bergerak ke bawah menekan masuk
penisku ke dalam memeknya. Tak lama kemudian gerakan Yanti makin menggila dan
makin cepat. Dari mulutnya terdengar erangan yang semakin keras dan akhirnya
badanya menegang sambil dari mulutnya terdengar lenguhan Ughh.. Aaah.. Aaah..,
kemudian tubuhnya menubruk dan memeluk tubuhku erat-erat, mass.. aku sudah..,
keluar..ooh.. Enak..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dan keras.., terlihat mata Yanti mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintih dan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menit kemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Yanti bergoyang ke kanan dan ke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinan aku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatu sentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..
Pelan kubalik badanya, dan kutindih serta kugenjot memeknya cepat dan keras.., terlihat mata Yanti mendelik, membalik ke atas.., mulutnya merintih dan mengerang..
Kupercepat gerakanku dan kugenjot penisku sepenuh tenaga.., 15 menit kemudian terasa penisku berdenyut-denyut. Kepala Yanti bergoyang ke kanan dan ke kiri dan ke kanan, kedua kakinya mengepit pantatku sehingga tak ada kemungkinan aku mencabut kontolku saat air maniku keluar nanti, dan akhirnya dengan suatu sentakan yang keras kubanjiri liang memeknya dengan cairan maniku..
Kumarahi
Yanti, karena dia tak memberiku kesempatan membuang air maniku di luar liang
kemaluannya. Aku khawatir hal ini akan berakibat fatal, yaitu Yanti hamil..
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingaku bahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudah sedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diri dari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya. Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipanku ukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.
Dia cuma ketawa kecil dan memelukku erat, sambil berbisik di telingaku bahwa dia sudah KB suntik. Aku terheran-heran mendengarnya, karena sudah sedemikian jauhnya pengetahuan dia tentang berhubungan sex dan menjaga diri dari kehamilan. Mendengar itu aku lega dan segera kucium dan kulumat mulutnya. Kami bercumbu, berciuman dan bergumul di atas dipan, kebetulan dipanku ukurannya lebar, sehingga kami leluasa bercumbu di atasnya.
Dua
puluh menit berlalu, terasa penisku mulai menegang dan mengeras. Segera
kumasukan lagi kontolku ke memek Yanti. Kembali kami berdua mengumbar nafsu
sepuas hati, kali ini aku tetap menjaga posisi di atas, karena aku tahu bahwa
pada ronde kedua dan ketiga aku lebih bisa mengatur dan menahan klimaks lebih
lama. Yanti mengerang dan merintih, dan akhirnya pada puncak kepuasan yang
kedua kusemburkan lagi benih-benih manusia ke dalam rahim Yanti.
Keringat
kami telah bercampur dan membasahi tubuh kami, seprei tempat tidur sudah
berantakan nggak karuan, kami berbaring berpelukan, kepalanya di dadaku, tangan
Yanti memainkan penisku, dan sesekali kami saling berciuman.
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kami dapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kami berciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..
15 menit kemudian kami ulangi lagi hal yang sama, hingga klimaks kami dapatkan lagi, Kembali kuguyur memeknya dengan caiaran maniku, sambil kami berciuman panjang sekali.., seolah tak akan henti..
Setelah
cukup beristirahat, segera kami berkemas dan berpakaian, dan tidak lupa
berjanji untuk mengulangi lagi apa yang kami lakukan sore ini. Menjelang
maghrib kuantar Yanti pulang ke rumah, dan sebelum aku pamit pulang, sekali
lagi kupeluk pinggangnya dan kucium bibirnya dengan mesra. Sejak hari itu
resmilah Yanti menjadi pacar tetapku, alias pemuas nafsuku.
No comments:
Post a Comment