Cerita Seks - Perkenalkan nama saya Lala diusiaku yang 35 tahun ini birahi sexsualku seakan
akan bertambah, perkejaanku sebagai ibu rumah tangga setiap paginya bersih
bersih rumah, sehabis bersih bersih biasanya melihat acara TV, kalau acaranya
tidak ada yang bagus tiduran dikamar tidur, itulah keseharianku sebagai ibu
rumah tangga.
Setelah
merebahkan badanku beberapa lam ternyata mata ini tidak mau terpejam. Rumah
yang besar ini terasa sangat sepi pada saat-saat seperti ini. Maklum suami
bekerja di kantornya pulang paling awal jam 15.00 sore, sedang anakku yang
pertama kuliah di sebuah PTN di Bandung.
Anakku yang yang
kedua tadi pagi minta ijin untuk pulang sore karena ada acara extrakurikuler di
sekolahnya. Sebagai seorang istri pegawai BUMN yang mapan aku diusia yang 45
tahun mempunyai kesempatan untuk merawat tubuh.
Teman-temanku
sering memuji kecantikan dan kesintalan tubuhku. Namun yang sering membuatku
risih adalah tatapan para lelaki yang seolah menelanjangi diriku. Bahkan
temen-teman anakku sering berlama-lama bermain di rumahku.
Aku tahu seringkali mata mereka mencuri pandang kepadaku. Rumahku terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni belum terlalu padat.
Aku tahu seringkali mata mereka mencuri pandang kepadaku. Rumahku terletak di pinggiran kota S, kawasan yang kami huni belum terlalu padat.
Halaman rumahku
memang luas terutama bagian depan sedang untuk bagian samping ada halaman namun
banyak ditumbuhi pepohanan rindang.
Kami membuat teras juga disamping rumah kami. Sedang kamar tidurku dan suamiku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman samping rumah kami. Belum sempat memejamkan mata aku terdengar suara berisik dari halaman samping rumahku.
Kami membuat teras juga disamping rumah kami. Sedang kamar tidurku dan suamiku mempunyai jendela yang berhadapan langsung dengan halaman samping rumah kami. Belum sempat memejamkan mata aku terdengar suara berisik dari halaman samping rumahku.
Aku bangkit dan
melihat keluar. Kulihat dua anak SMP yang sekolah didekat rumahku. Mereka
kelihatan sedang berusaha untuk memetik mangga yang memang berbuah lebat. Tentu
saja kau sebagai pemilik rumah tidak senang perilaku anak-anak tersebut.
Bergegas aku
keluar rumah. Seraya berkacak pinggang aku berkata pada mereka, “Dik, jangan
dipetik dulu nanti kalau sudah masak pasti Ibu kasih”. Tentu saja mereka berdua
ketakutan. Kulihat mereka menundukkan wajahnya.
Aku yang tadi
hendak marah akhirnya merasa iba. “Nggak apa-apa Dik, Ibu hanya minta jangan
dipetik kan masih belum masak nanti kalau sakit perut bagaimana” aku mencoba
menghibur. Sedikit mereka berani mengangkat wajah.
Dari dandanan dan
penampilan mereka kelihatan bahwa mereka anak orang mampu. Melihat wajah mereka
mereka yang iba akhirnya aku mengajak mereka ke dalam rumah. Aku tanya kenapa
pada jam-jam belajar mereka kok ada diluar sekolah ternyata pelajaran sudah
habis guru-guru ada rapat.
Setelah tahu
begitu aku minta mereka tinggal sebentar karena mungkin mereka belum dijemput.
Iseng-iseng aku juga ada teman untuk ngobrol. Benar dugaanku mereka adalah
anak-anak orang kaya, keduanya walaupun masih kecil namun aku dapat melihat
garis-garis ketampanan mereka yang baru muncul ditambah dengan kulit mereka
yang putih bersih.
Yang satu bernama
Doni yang satunya lagi bernama Rio. Ketika ngobrol aku tahu mata-mata mereka
sering mencuri pandang ke bagian dadaku, aku baru sadar bahwa kancing dasterku
belum sempat aku kancingkan., sehingga buah dadaku bagian atas terlihat jelas.
Aku berpikir
laki-laki itu sama saja dari yang muda sampai yang tua. Semula aku tidak suka
dengan perilaku mereka namun akhirnya ada perasaan lain sehingga aku biarkan
mata mereka menikmati keindahan payudaraku. Klik Judi Online.
Aku menjadi
menikmati tingkah laku mereka kepada diriku. Bahkan aku mempunyai pikiran yang
lebih gila lagi untuk menggoda mereka, aku sengaja membuka beberapa kancing
dasterku dengan alasan hari itu sangat panas.
Tentu saja hal ini
membuat mereka semakin salah tingkah. Sekarang mereka bisa melihat dengan
leluasa.
“Hayoo.. pada
ngliatin apa!”, Aku pura-pura mengagetkan mereka.
Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi sangat salah tingkah.
Tentu saja ini sangat membuat mereka menjadi sangat salah tingkah.
“Ti.. dak.. kok..
Bu Lala” Doni membela diri.
“I.. itu acara TV bagus Bu Lala” Rio menambahkan.
“Nggak apa-apa Ibu tahu kalian melihat tetek Ibu to.. ngaku aja” aku mencoba mendesak mereka.
“E.. Anu Bu Lala” Rio nampak akan mengatakan sesuatu, namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya aku kembali menimpali,
“Mama kalian kan juga punya to, dulu kalian kan netek dari Mama kalian
“I.. ya Bu Lala”
Doni menjawab. “Tapi sekarang kami kan sudah nggak netek lagi, lagian punya Mama lain ama punya Bu Lala”
Rio nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.
“Lain bagaimana?” Aku menanyakan.
“Punya Mama nggak sebesar punya Bu Lala” Doni menyahut.
Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi.
“I.. itu acara TV bagus Bu Lala” Rio menambahkan.
“Nggak apa-apa Ibu tahu kalian melihat tetek Ibu to.. ngaku aja” aku mencoba mendesak mereka.
“E.. Anu Bu Lala” Rio nampak akan mengatakan sesuatu, namun belum lagi selesai kalimat yang diucapkannya aku kembali menimpali,
“Mama kalian kan juga punya to, dulu kalian kan netek dari Mama kalian
“I.. ya Bu Lala”
Doni menjawab. “Tapi sekarang kami kan sudah nggak netek lagi, lagian punya Mama lain ama punya Bu Lala”
Rio nampaknya sudah mampu menguasai keadaannya.
“Lain bagaimana?” Aku menanyakan.
“Punya Mama nggak sebesar punya Bu Lala” Doni menyahut.
Kata-kata tersebut membuat aku berpikiran lebih gila lagi.
Gairahku yang
semakin meninggi sudah mengalahkan norma-norma yang ada, aku sudah kehilangan
kendali bahwa yang ada di depanku adalah anak-anak polos yang masih bersih
pikirannya.
Aku menarik kursi kehadapan mereka.
Aku menarik kursi kehadapan mereka.
“Doni, Rio kalian
mungkin sekarang sudah nggak netek lagi karena kalian sudah besar kalian boleh
kok..” aku berkata.
Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.
“Boleh ngapain Bu Lala” sergah Doni.
“Boleh netek sama Ibu, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat sudah tau jawaban mereka.
“E.. ma.. u” jawab Rio
“Mau sekali dong” Doni menyahut.
Tentu saja kata-kataku ini membuat mereka penasaran.
“Boleh ngapain Bu Lala” sergah Doni.
“Boleh netek sama Ibu, kalian mau nggak..?” tanyaku walau sebenarnya aku sangat sudah tau jawaban mereka.
“E.. ma.. u” jawab Rio
“Mau sekali dong” Doni menyahut.
Jawaban mereka
membuat aku semakin bergairah. Aku berpikiran hari ini aku akan mendapatkan
sensasi dari pria-pria muda ini.
Aku duduk
dihadapan mereka kemudian dengan agak tergesa aku melepaskan daster bagian
atasku sehingga kini bagian atas tubuhku hanya tertutupi BH warna krem.
Sepertinya mereka sudah tidak sabaran lagi terlihat dari tangan-tangan mereka
yang mulai menggerayangi susuku. Klik Casino Online.
Aku menjadi geli
melihat tingkah mereka. “Sabar sayang.. Ibu lepas dulu kutangnya” sambil
tersenyum aku berkata. Setelah aku melepas kutang, tumpahlah isinya, sekarang
buah dadaku terbuka bebas. Mata mereka semakin melotot memandangi payudaraku.
Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.
Tampaknya mereka bingung apa yang harus mereka lakukan.
“Ayo dimulai kok
malah bengong” aku menyadarkan mereka.
Mereka bangkit dari duduknya. Tangan mereka kelihatan berebut untuk meremas.
“Jangan rebutan dong.. ah.. Doni yang kiri.. e yang kanan” perintahku
Mereka bangkit dari duduknya. Tangan mereka kelihatan berebut untuk meremas.
“Jangan rebutan dong.. ah.. Doni yang kiri.. e yang kanan” perintahku
No comments:
Post a Comment