Cerita Seks - Aku begitu terpesona melihat penampilannya, begitu rapi, cantik dan seksi.
Mukanya yang putih dan mulus, rambutnya yang panjang terurai, membuatnya
terlihat begitu merangsang, serta tubuhnya yang langsing, pinggang yang
ramping, dan ukuran tubuh yang tidak terlalu tinggi, mungkin sekitar 160cm.
Dadanya yang montok, besar dan kencang, mungkin sekitar 34D, ditambah lagi
dengan memakai kemeja putih ketat dengan kancing bagian atas yg dibuka, sampai
buah dadanya yang besar itu terlihat begitu indah dan montok, tampak menyembul,
seperti mau keluar dari pakaiannya.
Pantatnya
yg bulat dan kecil itu, terlihat begitu padat. Adik kecilku bahkan sempat
menegang , karena melihat keseksian, keindahan, kemontokan tubuhnya, bahkan
cara jalannya yang terlihat seperti di catwalk. Dalam diriku tidak berhenti
memuja tubuh yang sangat seksi itu, dan betapa nafsu laki-laki aku muncul,
karena itu kali pertamanya aku melihat pemandangan yang begitu merangsang.
Jujur saja, aku sangat pengen meremas-remas dada dan bokongnya itu, tangan ku
sudah gatal rasanya. Tapi aku masi bisa menahannya.
Setelah
itu kami saling berkenalan, tangannya yang kecil itu begitu lembut. Dan
dilanjutkan dengan makan siang bersama, kami berbincang-bincang dan menjadi
dekat, karena tante Lin orangnya gaul, jadi semua pembicaraan kami terasa
nyambung. Selesai makan, kami diantar pulang ke kos oleh tante Lin. Sayang
sekali aku tidak menanyakan no hpnya.agen poker
Setalah
hari itu, kami makin sering bertemu, karena tante lin sering mengajak kami
pergi makan dan jalan-jalan. Dan aku menjadi semakin menginginkan untuk
menikmati tubuhnya itu. Tante lin sering telpon-telponan denganku, kadang hanya
untuk ngobrol saja, tapi tante Lin lebih sering menelponi aku daripada anak
angkatnya. Bahkan sempat dia memintaku untuk menjadi anak angkatnya, tapi aku
hanya menganggapnya basa-basi saja.
Tak
terasa sudah berapa kali kami bertemu, dan akhirnya aku menjadi benar-benar
akrab dengan tante Lin.. dan tante Lin mengajaku untuk menginap ditempatnya.
Semula aku menolak, tapi tante Lin tetap memaksa seperti anak yang manja,
akhirnya aku terima ajakannya. Aku hanya pura-pura menolak, tapi sebenarnya aku
mau menginap ditempatnya.
Malam
itu, aku dan tante Lin duduk-duduk di lantai teras rumahnya di lantai paling
atas. Angin malam yang menyejukkan, dan suasana yang tenang, membuat kami
merasa lebi santai. Ketika itu anak-anaknya sudah tidur.
Karena aku dan tante Lin sudah akrab, maka aku memberanikan diri bertanya-tanya sesuatu yang “nakal”.
Karena aku dan tante Lin sudah akrab, maka aku memberanikan diri bertanya-tanya sesuatu yang “nakal”.
“tante
ngga ngerasa kesepian, kalau malem-malem ga ada yang temenin tidur.. hehe..”,
candaku pada tante Lin..
sebelumnya tante Lin tampak terdiam tidak mau menjawab, hanya tertawa kecil, tapi akhirnya, “Nakal juga kamu ya..”
“emang sih kesepian.. tapi mau gimana.. ga ada yang menghibur.. “, lanjutnya dengan sedikit mengeluh.
“hahaha.. kalau tante bole.. aku mau menghibur tante..”, candaku lagi.
“haha.. emangnya kamu bisa apa.. belum ada pengalaman, trus ntar malah tante yang kecewa..”, tanyanya, sambil memancingku.
“iya.. tapi setidaknya aku pernah liat dan tau cara-cara ama
posisi-posisi nya..”, candaku dengan sedikit menantang.
“yuk masuk aja.. tambah dingin aja nih di sini..”, ajaknya dan mengubah topik. Dan kami pun masuk kedalam.
sebelumnya tante Lin tampak terdiam tidak mau menjawab, hanya tertawa kecil, tapi akhirnya, “Nakal juga kamu ya..”
“emang sih kesepian.. tapi mau gimana.. ga ada yang menghibur.. “, lanjutnya dengan sedikit mengeluh.
“hahaha.. kalau tante bole.. aku mau menghibur tante..”, candaku lagi.
“haha.. emangnya kamu bisa apa.. belum ada pengalaman, trus ntar malah tante yang kecewa..”, tanyanya, sambil memancingku.
“iya.. tapi setidaknya aku pernah liat dan tau cara-cara ama
posisi-posisi nya..”, candaku dengan sedikit menantang.
“yuk masuk aja.. tambah dingin aja nih di sini..”, ajaknya dan mengubah topik. Dan kami pun masuk kedalam.
Tante
Lin memintaku mengunci pintu, setelah selesai menguncinya, ternyata tante Lin
masih berdiri di sana. Kami saling bertatapan, cukup lama, tapi tidak berbicara
satu katapun. Pikiran ku mulai kacau, dan berpikir yang tidak-tidak. Benar
saja, tiba-tiba tante Lin memegang kedua tanganku, dan dengan senyuman nakal
menarikku ke sebuah kamar, kamar yang disediakannya buatku selama aku menginap
di tempatnya.
Aku
didorong ke ranjang, dan terduduk diatas ranjang yang lebar itu.
Tante
Lin langsung saja mendatangiku, meloncat dan duduk diatas pahaku, kedua
tangannya memegang erat rambut belakangku. Dan dengan tiba-tiba tatapan matanya
berubah menjadi tatapan nafsu yang sangat besar.
“Tunjukin
ke tante kalau kamu emang tau cara-caranya..”, setelah itu langsung saja dia
mencium bibirku dengan buasnya, tangannya yang memegang kepalaku bergerak-gerak
memegangi dan menjambaki dengan kuat seluruh rambutku. Tubuh kami bergerak maju
mundur mengikuti gerakan kepala kami. Lidahnya bergerak-gerak dengan cepat di
dalam mulutku, aku membalasnya dengan menggerak-gerakan lidahku juga.
Ternyata
saat itu aku baru sadar bahwa nafsu seks tante Lin ternyata besar sekali, dapat
kulihat dari caranya, bagaimana tante Lin ingin melumat lidahku. Ketika lidahku
masuk dan meraba-raba rongga mulutnya, giginya mengigit-gigit dan mengisap-isap
lidahku seperti mau menelannya bulat-bulat, kami seperti sedang bermain
pedang-pedangan dengan lidah didalam mulut kami.
Aku
sudah tidak berpikir apa-apa lagi, kecuali malam ini aku harus menikmati tubuh
tante Lin sampai puas, akan kulampiaskan semua nafsuku yang tertahan selama ini
pada tante Lin.
“emmm..
emmmm.. ssshhh..aaahh.. ssshh.. aaahh..”, suaranya mendesah.
Ketika
sekali-sekali tante lin mengigit bibir bawahku, aku gigit pula bibir atasnya.
Begitu juga ketika tante Lin mengigit bibir atasku, maka aku menggigi bibir bawahnya.
Klik Judi Online
Kupegang
kedua pahanya, kuleus-elus bagian dalam serta luarnya, sampai akhirnya aku
menaikan kedua tanganku dan mencengkram sekuat-kuatnya kedua pantatnya yang
bulat itu.
“ahhh….”,
teriakannya kecil.
Tangan
kananku memeluk erat-erat pada pinggangnya yang ramping itu, sampai buah
dadanya itu terjepit diantara tubuh kami. Karena aku ingin merasakan kedua buah
dadanya menempel didadaku, Begitu besar, begitu empuk, dan betapa dapat
kurasakan kedua putingnya mengeras di dadaku.
Tangan
kiriku tetap memegang kedua pantatnya itu, kumasukkan tanganku kedalam celana
karetnya, berulang kali aku meremas-remas pantatnya itu dengan kuat-kuat, lalu
kuelus-elus dan kuraba-raba, “aaahh..”, suara itu yang
sangat
ingin aku dengar dari mulutnya.
Akhirnya
kumasukkan jari-jariku kedalam belahan kedua pantatnya. Dengan jari-jariku
dapat kurasakan hangat disekitar lubang pantatnya itu. Aku bermain-main dengan
jari-jariku dan aku gelitik-gelitik luang duburnya itu, dan terasa tubuhnya
berkejut-kejut kegelian, tangan kanannya memegang kuat-kuat pergelangan tangan
kiriku untuk menahan rasa geli jari-jariku di duburnya.
Jariku
dapat merasaka bagaimana duburnya mengejang kegelian.
Setelah cukup lama kami berciuman, tante Lin melepaskan bibirku, lalu dia berdiri dan membuka baju, celana dan CDnya. Dan kulihat pemandangan yang begitu menakjubkan ketika tante Lin mengangkat kedua tangannya, dadanya yang besar itu ikut terangkat, lalu turun dan begoyang-goyang, ahh… betapa beruntungnya aku dapat melihatnya dengan begitu dekat.
Setelah cukup lama kami berciuman, tante Lin melepaskan bibirku, lalu dia berdiri dan membuka baju, celana dan CDnya. Dan kulihat pemandangan yang begitu menakjubkan ketika tante Lin mengangkat kedua tangannya, dadanya yang besar itu ikut terangkat, lalu turun dan begoyang-goyang, ahh… betapa beruntungnya aku dapat melihatnya dengan begitu dekat.
Aku
tidak malu-malu lagi, maka kulepas juga semua pakaianku, sampai kami
benar-benar telanjang bulat. Aku tak sempat melihat semua bagian tubuhnya, tapi
yang pasti bulu-bulu di sekitar mem*k tante Lin itu telah dicukur habis,
membuat mem*knya terlihat lebih bersih dan lebih segar. Adikku sudah mencapai
80%.
“dicukur
tante..?”, tanyaku, tante Lin hanya membalas dengan senyuman dan tidak berkata
apa-apa.
Setelah
itu kami lanjutkan lagi ciuman kami, semakin lama mulut kami semakin penuh
dengan ludah kami yang telah bercampur, begitu kental, begitu nikmat, dan
begitu banyak sampai menetes keluar dari sela-sela mulut kami, dan sampai aku
merasa seperti sedang meminum segelas air ludah kenikmatan bersama-sama tante
Lin. Tiba-tiba tante Lin menyedot semua ludah-ludah itu kemulutnya dan melepas
mulutku.
Dengan
tatapan mata dan senyuman yang nakal, tante Lin mengeluarkan air ludah itu,
membiarkannya mengalir seperti air terjun, dari mulutnya ke dagunya, lehernya,
membasahi dadaku dan dadanya, dan akhirnya turun sampai ke pangkal paha kami,
membuat gesekan tubuh kami terasa menjadi lebih licin. Melihat itu, mulai
kuarahkan kepalaku untuk menjilati air ludah, tapi tidak kutelan, mulai dari
sudut-sudut bibirnya, lalu dagunya, lehernya, betapa air ludah itu terasa lebih
nikmat, karena telah bercampur dengan keringat tante Lin.
Kubungkukkan
badanku sedikit, sehingga mendorong tubuh tante Lin sedikit kebelakang, dan
akhirnya mukaku sampai tepat didepan dadanya,
“besar banget tante..”, kataku spontan, aku tidak melihat matanya, tapi aku tahu kalau dia tertawa gembira.
“besar banget tante..”, kataku spontan, aku tidak melihat matanya, tapi aku tahu kalau dia tertawa gembira.
Kubaringkan
badanya ke ranjang, tante Lin dibawah dan aku diatas menindihnya. Lalu kuciumi,
kusedot-sedot dan kugigit-gigit kecil puting susunya, tanganku meremas dadanya
yang lain, jariku secara refleks mulai memutar-mutar dan mencubit-cubit kecil
puting susunya.
“aaahh..”,
desahnya.. Kubuka mulutku selebar-lebarnya dan dengan sedikit memaksa aku
mencoba “memakan” dadanya sebanyak mungkin. Aku ingin “menelan” semua dadanya.
Kuremas, Kugigit, kujilat dan kusedot, semua itu kulakukan berulang-ulang kali
sampai aku puas.
“ssshhh..aahhh..aah..aah..”,
desahannya semakin membuat nafsuku menggebu-gebu.
Setelah
puas dengan dadanya, aku mulai turun menciumi perutnya, menjilat-jilat
pusarnya, kedua tanganku tetap memegangi dadanya, tangan tante Lin tetap
memegang kepalaku, mengikuti kemana kepalaku bergerak.
Akhirnya aku sampai di depan mem*knya, yang ternyata sudah basah, aku mencium bau harum dan lembut dari mem*k dan disekitar pangkal pahanya.Klik Casino Online
Akhirnya aku sampai di depan mem*knya, yang ternyata sudah basah, aku mencium bau harum dan lembut dari mem*k dan disekitar pangkal pahanya.Klik Casino Online
Aku
sudah tidak tahan lagi, langsung saja kujilat dan kugigit-gigit kecil klit nya,
aku memainkan lidahku dengan cepat di duburnya, naik-turun dari pantat ke
klitnya, berulang-ulang sampai daerah itu basah oleh ludahku.
“aaaaaaaaahhhh………..”,
suara desahannya yang rendah, dan semakin kuat tante Lin menjambak rambutku.
Kujilati
mem*k nya seperti sedang menjilat es krim, es krim yang tidak akan pernah
habis. Setelah itu aku belutut di ranjang dan mengangkat pantatnya
tinggi-tinggi, sehingga kedua lututnya berada di dekat dengan kepalanya, selama
dalam posisi kepala dan kaki dibawah tapi pantatnya terangkat seperti itu,
kedua tangannya hanya bisa memegang pantatnya, menarik kekanan dan kekiri,
sehingga lubang vagina dan lubang pantatnya dapat kulihat dengan jelas.
Tangan
kiriku memegang perutnya, dengan badan kutahan punggungnya supaya posisinya
tidak berubah. Dan dengan jari tengah serta telunjuk tangan kanan, kumasukkan
kedalam vaginanya, kedua jariku bermain-main, berputar kiri-kanan, dan keluar
masuk di lobang vaginanya.
“aaaahh…
aaaahh..aaaahhh.. eennaaaakkk…”, kata tante Lin sambil memejamkan mata,
membuatku semakin bersemangat memainkan vaginanya.
“jangan berhentii…. trussss…. aaaahh…”
“jangan berhentii…. trussss…. aaaahh…”
Setelah
cukup lama aku bermain-main dengan mem*knya, akhirnya tubuh tante Lin seperti
kejang-kejang, dan bergerak-gerak dengan cepat serta kuat, sampai aku sedikit
kewalahan menahan posisinya.
“aaaah..
aaaa..aaaaaaaaaaaaahh..”, kata tante Lin, sembari tubuhnya mengejang-ngejang,
lalu keluar cairan putih kental yang cukup banyak dari dalam vaginanya,
membasahi tanganku dan daguku, dan menyebar ke dadaku dan perutnya, aku tidak
tahu cairan apa itu, baunya pun tidak begitu sedap.
“haah..
hah.. hah..hah..”, suaranya kecapekan, disertai keringat yang bercucuran dan
tubuhnya mulai melemas.
Tangannya
pun jatuh terkulai keranjang, tante Lin terlihat seperti orang yang sudah KO.
“Jilatin
franss… jilatin yaa.. sampe bersih…”, kata tante Lin dengan manja.. Semula aku
tidak mau, tapi setelah mendengar permintaan manja tante Lin, akhirnya
kulakukan juga. Padahal penisku saja belum kumasukan kedalam vaginanya, tapi
tante Lin sudah kecapekan.
Tapi
aku juga sebenernya sudah kecapekan berada di posisi seperti itu, tanganku
sudah pegal-pegal, tapi nafsu dan semangatku masih besar, karena aku belom
puas, jadi tidak boleh putus di tengah jalan.
“hahh..
franss.. jari kamu bener-bener nakal..”, katanya
terengah-engah.
“sini frans..”, panggilnya sambil menarik kepalaku mendekat ke mukanya.
terengah-engah.
“sini frans..”, panggilnya sambil menarik kepalaku mendekat ke mukanya.
Dengan
begitu aku menindih badannya, dadanya yang besar itu mengganjal tubuhku, dan
kubiarkan juga penisku terjepit diantara tubuh kami. Aku dapat merasakan detak
jantungnnya, desahan nafasnya yang telah kecapekan. Kedua tangannya melingkar
memeluk leherku, kakinya juga melingkat dan melipat di punggungku.
Tanganku
memegang pinggangnya, meraba-raba dari atas ke bawah, dan satunya lagi mengelu-elus
rambutnya yang panjang dan terurai itu. Tubuhnya benar-benar dibasahi oleh
keringat. Aku sengaja menggerakkan tubuhku maju-mundur, sengaja membuat penisku
yang masih tegang itu mengosok-gosok mem*knya, sengaja kuraba-raba pinggiran
dadanya yang ikut berbergerak maju mundur, kulakukan supaya dapat membuatnya
bernafsu lagi.
“frans,
tante suka banget cara lu ngobokin vagina tante..”, kata tante Lin memjuaku.
“jadi gimana.. tante puas ga..”, tanyaku.
“puas banget.. baru begitu aja tante uda kecapekan..”, katanya sambil memegang pipiku dan menatap mataku dalam-dalam.
“tapi tenang aja.. tante masi kuat kok..”, lanjutnya menggoda.
“jadi gimana.. tante puas ga..”, tanyaku.
“puas banget.. baru begitu aja tante uda kecapekan..”, katanya sambil memegang pipiku dan menatap mataku dalam-dalam.
“tapi tenang aja.. tante masi kuat kok..”, lanjutnya menggoda.
Tanpa
banyak bicara lagi, langsung saja aku mencium bibirnya.. Petandan mulainya
ronde kedua.
“hhmmppp…
hmmppp.. hemmmpp…”, desahannya menjukkan bahwa tante Lin masih bernafsu.
Perlahan-lahan aku mulai merasakan putingnya mengeras kembali didadaku, tangan
dan kakinya memeluk tubuhku dengan lebih erat.
Tampaknya
memang benar, nasfu dan stamina tante Lin sudah kembali.
Cukup
berapa menit saja, dan air ludah mulai memenuhi mulut kami.
Tante
Lin mendorong tubuhku kesamping, dan kamipun berganti posisi, aku dibawah dan
tante Lin diatas.
Disedotnya
kembali semua air ludah itu, perlahan-lahan tante Lin menegakkan badannya.
Tante Lin pun melakukan hal tadi, mengeluarkan air ludah itu sedikit demi
sedikit ke dadaku, perutku, lalu akhirnya membanjiri tubuhnya sendiri, air
ludah itu terus turun dengan cepat sampai membasahi penisku yang berada
terjepit diantara bagian dalam pangkal pahanya dan tubuhku.
Dengan
senyuman dan tatapan mata nakal, tante Lin memundurkan tubuhnya, lalu
membungkuk, sambil memegang penisku, tante Lin menumpahkan sisa air ludah itu
ke penisku.
“wow..
lumayan juga punya kamu yaa…”, katanya dengan bernafsu, sambil memegang erat
penisku.
“tadi sudah giliran kamu.. sekarang giliran tante buat kamu
“tadi sudah giliran kamu.. sekarang giliran tante buat kamu
kecapekan..”,
setelah itu, tante Lin mulai mengecup kepala penisku.
Tangan
yang satunya memegang, memainkan dan menekan-nekan, bahkan kadang digenggamnya
dengan kuat buah pelirku.
“Aaah…”,
kataku karena rasa nyeri di buah pelirku.
Dengan
posisi kakiku yang terbuka lebar, tanpa banyak bicara lagi, tante Lin dengan
tatapan nakalnya mulai menjilati dari pangkal batang sampai keujung penisku.
Tanganku memegangi rambutnya, karena aku ingin melihat pemandangan yang tak
ingin aku lewati, bagaimana tante Lin menjilati penisku dengan nafsunya.
Digititnya kecil ujung penisku, rasanya geli sekali. Dikulum-kulumnya penisku,
dijilatnya seperti sedang menjilat batang eskrim kenikmatan yang tidak akan
pernah habis.
Sekarang
giliran buah pelirku ikut di”makan”nya, dimasukkan kedalam mulutnya bersama
dengan bulu-buluku. Lidahnya bermain dengan cepat didalam mulutnya, sesekali
pelirku seperti sedang dikunyah oleh tante Lin. “aaahh..”, teriakku kecil, menahan
sakit.
Penisku
sudah basah sekali oleh air ludah tante Lin, nafsunya seperti sudah tidak
tertahan lagi. Penisku teraa panas gara-gara bergesekan dengan mulut dan
tangannya. Kepalanya naik turun dengan cepat diikuti dengan tangannya. Sesekali
kepala penisku ditarik dengan kuat oleh giginya. Geli sekali.
Cukup
lama tante Lin bermain-main dengan penisku, kira-kira hampir setengah jam,
akhirnya aku sudah tidak tahan lagi.
“aaaaa..
tanteeeee…”, teriakku panjang.
Mendengar
seperti itu, tante Lin makin mempercepat gerakan mulut dan tangannya. Otot
kakiku sudah mengejang menahannya, akhirnya.. crrttt.. crrttt.. keluar juga
spermaku. Tante Lin tidak mengeluarkan penisku dari mulutnya, dengan nafsu
tante Lin menjilati semua spermaku, tidak dibiarkannya setetespun mengalir
keluar.
Semuanya
ditelan tanpa sisa, bahkan penisku masi disedot-sedotnya. Begitu bernafsunya
sampai tante Lin terlihat seperti wanita yang benar-benar kehausan akan
spermaku.
“aaahh..
punya kamu hangat sekali rasanya.. nikmat banget..”, kata tante Lin.
“ha ha.. sekarang kita satu sama..”, lanjutnya dengan gembira, sambil menindih badanku.
“ha ha.. sekarang kita satu sama..”, lanjutnya dengan gembira, sambil menindih badanku.
Kami
berpelukan diranjang, saling meraba-raba tubuh. Kuelus pahanya yang mulus,
sedangkan tante Lin mengelus-elus perut dan dadaku. Kami saling bertatapan dan
saling memuji.
“enak
sekali tante.. tante jago banget..”, kataku, menikmati bagaimana enaknya
pengalaman dioral oleh seorang wanita cantik.
“kamu juga hebat.. tante suka de sama kamu.. bisa tahan selama itu…”, balasnya nakal.
“kamu juga hebat.. tante suka de sama kamu.. bisa tahan selama itu…”, balasnya nakal.
Aku
begitu lelah, rasanya sudah tidak ada tenaga lagi. Aku melihat tante Lin,
tampaknya ia juga dalam keadaan yang sama denganku.
Tak
banyak bicara, tante Lin mengecup dahiku.
“kita
bobo dulu aja ya sekarang.. tante pengen lanjut tapi lemes banget rasanya..”,
katanya.
“iya tante.. aku juga capek banget.. tante emang top..”, balasku.
“iya tante.. aku juga capek banget.. tante emang top..”, balasku.
Tampak
tante Lin tersipu malu dan tertawa kecil. Sebenernya nafsuku masih besar, tapi
keadaan tubuhku tidak memungkinkan. Aku juga tidak mau memaksa tante Lin yang
sudah sangat kecapekan.
Begitu
lemas, akhirnya kami tidur berpelukan, saling menghangatkan. Kupeluk erat-erat
tubuh tante Lin seperti sedang memeluk bantal, aku masih ingin merasakan
dadanya yang besar itu. Dengan pahanya tante Lin mengelus-elus pahaku.
Aku
merasa senang sekali mesikpun aku tidak puas malam itu.
Mulai
dari keesokan harinya, aku merasa tante Lin menjadi semakin sayang padaku. Ia
memenuhi semua kebutuhan dan keperluanku. Dalam 2 bulan terakhir ini, kami
telah melakukan hubungan sex lagi sekitar 10 kali dan kami lakukan setiap ada
kesempatan. Pernah kami lakukan ketika didalam mobil, dikamar mandi, dikamar
anaknya bahkan sempat diatas ranjangnya, ranjang tempat dimana tante Lin dan
almarhum suaminya tidur.
No comments:
Post a Comment