Cerita Seks - Ketika itu, di rumah tanteku sedang tidak ada seorangpun, karena saya sudah ditugaskan untuk menjaga rumahnya. Aku mulai menjaga sekitar pukul 9 pagi. Ketika itu aku masih belum mengenal sex. Namun saya telah dikhitan (disunat), sehingga saya biasa memainkan penisku itu karena bentuknya, juga saya sering menggesek-gesekkan pada sesuatu, misalnya tembok (karena aku belum tahu bahwa hal itu dapat merusak dan aku belum tahu masturbasi).
Pada
pukul 12 siang. Terdengar suara bel dari luar, ternyata anak Tanteku sudah
pulang, si Rita.
“Bukain
dong pintunya!!” dia berteriak serentak akupun berlari menuju arah pintu itu
dan membukakan kunci pintu tersebut.
“Awas awas! mau kencing!”.
“Awas awas! mau kencing!”.
Ketika
itu Rita masih berusia 11 tahun, masih muda bukan? Rita buru buru masuk karena
mungkin kebelet ingin ke toilet. Namun ketika sampai di depan toilet, yah.. air
kencingnya sudah tidak tertahan lagi sudah membasahi rok dan celana dalamnya.
“Aduh,
makanya ati ati dong! Sabar kek!” ucapanku. Dia hanya diam.
“Gimana dong, Non?” tanyanya.
Saya bilang, “Tenang aja”.
“Gimana dong, Non?” tanyanya.
Saya bilang, “Tenang aja”.
Kudekati
dia dan melepaskan roknya dan kusuruh dia melepaskan celana dalamnya karena
basah terkena air kencing.
“Bersihin
dulu ‘memem’ nya” katanya.
Diapun
membersihkannya dengan air dan mengusap dari arah dubur ke arah vagina, lalu
kuhentikan dia.
“Salah!
Rita, itu salah!”, kataku.
“Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Itu bisa membawa kuman dari dubur ke ‘memem’ jadi nanti memem nya kotor” kataku, maklum waktu itu saya pernah membaca buku milik ibunya yang berisi cara membersihkan diri.
“Jadi gimana?” tanyanya.
“Begini nih. Mau sama Banon atau ama kamu aja?” tanyaku.
“Contohin dulu” jawabnya.
“Memangnya kenapa?” tanyanya.
“Itu bisa membawa kuman dari dubur ke ‘memem’ jadi nanti memem nya kotor” kataku, maklum waktu itu saya pernah membaca buku milik ibunya yang berisi cara membersihkan diri.
“Jadi gimana?” tanyanya.
“Begini nih. Mau sama Banon atau ama kamu aja?” tanyaku.
“Contohin dulu” jawabnya.
Lalu
saya jongkok di belakangnya dan mengambil segayung air oleh tangan kananku dan
tangan kiri ku menyentuh kewanitaannya.
“Gini
nih” seruku sembari membasuhkan air dan menarik tangan kiriku dari vaginanya
menuju duburnya, kulakukan itu 4-5 kali. Lalu ia bangun dan mengeringkannya
dengan handuk dan pergi berganti baju.
Mungkin
ketika saya cebok kemaluannya, mungkin ia merasa sesuatu, soalnya ketika saya
memegang vaginanya ia terdiam dan tidak bergerak sedikitpun. Lalu Rita keluar
dari kamar dengan keadaan sudah berganti baju mengenakan rok pendek dan baju
sederhana. Lalu ia pun menghampiriku.
“Non,
kalau yang barusan nggak apa apa kan? Nggak ada penyakitnya kan?” tanyanya
polos.
“Nggak tahu lah”
“Mau diperiksa?” tanyaku.
“Nggak ah” jawabnya.
“Nggak tahu lah”
“Mau diperiksa?” tanyaku.
“Nggak ah” jawabnya.
Ketika
itu suasana begitu boring, “Banon, males mainnya ini ini terus, main yang lain
yuk!” tanyanya.
“Main apaan?” jawabku.
“Maen dokter dokteran yuk!” katanya.
“Main apaan?” jawabku.
“Maen dokter dokteran yuk!” katanya.
Akhirnya
akupun menyetujuinya. Ketika itu ada sejenis lampu belajar, namun mempunyai
efek apalah namanya, kayak bio energy Lantern (bukan iklan, hanya memperjelas).
Saya berpura pura menjadi dokternya dan dia menjadi pasiennya. Ketika itu aku
memakai alat itu yang sejenis Bio Energy Lantern. Kusuruh dia berbaring, lalu
aku sinari dia dari atas hingga bawah.
“Tidak
ada masalah kataku”, lalu kusuruh dia berbalik (tengkurap), lalu saya mulai
menyinarinya lagi (kayak ngescan gitu lah), lalu aku hentikan dibagian
pantatnya.
“Wah!ada masalah!” seruku.
“Apaan, Dok?” tanyanya.
“Kayaknya penyakit barusan ini” jawabku.
“Coba deh Dokter periksa dulu, sembuhin Dok!”jawabnya.
“Wah!ada masalah!” seruku.
“Apaan, Dok?” tanyanya.
“Kayaknya penyakit barusan ini” jawabku.
“Coba deh Dokter periksa dulu, sembuhin Dok!”jawabnya.
Lalu
aku menyuruh dia berbaring lagi dan saya memakaikan selimut hingga lehernya.
“Kita
harus operasi” kataku dan dia hanya mengangguk tanda setuju.
Lalu
saya mulai mempermainkan peranku. Kubuka lebar selangkangannya dan kuangkat
sedikit lututnya. Lalu aku mulai memainkan jariku di mulut vaginanya, aku
menyentuh bagian seperti biji kecil di bagian atas vaginanya (mungkin ini
clitorisnya). Lalu saya mempermainkan biji itu untuk sesaat, aku tekan, usap,
pencet, di puter, tampaknya ia kegelian karena hal itu, sehingga selimut yang
menutupinya terbuka dan jatuh disisi tempat tidur, sehingga ia dapat melihat
saya yang sedang bekerja ini, namun ia tidak melarangnya, bahkan sepertinya ia
ingin lagi, karena ia menggerak-gerakkan pinggulnya, sehingga jariku yang
asalnya berada di clitorisnya terpeleset dan jatuh ke dalam lubangnya. Namun
hal itu berhasil kucegah, sehingga jariku tidak masuk ke dalam lubang vaginanya. Klik Casino Online.
“Kenapa
Dok?” tanyanya.
“Ah, enggak, ini sakitnya dari dalam kayaknya” ucapanku.
“Ya sudah Dok, lanjutin” katanya.
“Ah, enggak, ini sakitnya dari dalam kayaknya” ucapanku.
“Ya sudah Dok, lanjutin” katanya.
Tanpa
ragu ragu saya memulai kembali tugasku, saya memainkan bibir vaginanya yang
masih muda, masih segar, masih perawan, dan sudah terbawa nafsu, karena kulihat
bibirnya merekah dan terlihat seperti basah-basah. Lalu saya masukin jari
telunjukku itu ke dalam lubangnya secara perlahan-lahan, soalnya waktu itu saya
masih takut kalau terjadi apa-apa padanya, bisa bisa saya dipecat dari rumah
saya. Saat kumasukan jariku, kulihat ia menikmati penetrasi jariku, namun mungkin
karena kurang basah, saya tanpa sengaja menyentuh selaput daranya, dengan
seketika ia menutup selangkangannya.
“Aduh!
sakit! jangan kedaleman!” ucapannya, saya bertanya dan meminta maaf.
Lalu
saya terus melakukan gerakan masuk dan keluar jariku dari vaginanya, dan ia
menggelinjang kecil seperti keenakan. Setelah itu dia tergeletak lemas dengan
keadaan masih merasakan kenikmatan yang kuberikan ini. Mungkin dia orgasme.
Ketika hendak kucabut jariku itu, dengan cepat tangannya menarik kembali
tanganku menuju vaginanya, tampaknya ia ketagihan dan masih bertenaga. Lalu
kumulai kembali tugasku, dengan awalan yang baik, dan lebih dalam dari pada
sebelumnya, tetapi tidak hingga mengenai selaput daranya, karena saya ingin ia
tetap perawan.
Setelah
kurang lebih 5 menit kulakukan gerakan itu, tampaknya ia telah orgasme lagi.
Saat kucabut jariku, terlihat basah dan ada semacam bau yang masih kurang jelas
baunya (mungkin ketika itu dia masih kecil).
Terdengar
suara klakson mobil, dengan segera saya melap jariku dan membangunkannya dengan
cara menusuk vaginanya hingga mengenai selaput daranya, namun tidak hingga
robek.
“Aduh!Sakit
tahu! Kamu ini jail amat!” hentaknnya.
“Itu ortu kamu sudah pulang! Jangan tidur terus! Ntar disangka sudah ngapa-ngapain lagih nih!” perintahku.
“Itu ortu kamu sudah pulang! Jangan tidur terus! Ntar disangka sudah ngapa-ngapain lagih nih!” perintahku.
Ia
pun menurut dan jalan terhuyung-huyung, mungkin karena lemas karena orgasme.
Kami berduapun menyambut kedatangan ortunya Rita. Sesudah itu, Rita tidak
pernah bercerita kepada siapapun, bahkan kepada kedua orang tuanya.
Sesudah
kejadian itupun, kami masih sering melakukan hal serupa, karena saya tidak
berani memasukan penisku ke vaginanya. Jika permainan itu ingin di mulai,
biasanya dia yang meminta, atau pun kadang saya yang memintanya, dan dia
biasanya hanya menikmati apa yang dirasakannya. Bahkan waktu itu aku puas
memainkan vagina cewek, soalnya dia hanya terbaring terdiam dan membiarkan aku
bekerja sepuasnya.
Malah
pernah kumasukkan benda yang kecil, dan kuambil kembali keluar. Juga pernah di
rumah yang masih akan dijual, karena tidak ada siapapun disana, dia mengajakku
kesana dan akupun mengikutinya dan memulai acara kami berdua. Seperti biasa aku
hanya memainkan jari-jariku di vaginanya, dan mencegah nafsuku membobol
vaginanya, karena dia masih perawan. Ketika itu aku masih belum mengetahui
tentang menjilat kemaluan cewek, makanya tidak kulakukan hal itu. Dia cukup
puas dengan pelayananku selama ini, walaupun aku masih mencari pengalaman. Klik Judi Online.
Pernah
aku melakukannya di sofa miliknya. Dia berbaring disudut sofa dan saya sudah
mengetahui tentang menjilati vagina, dan setelah kupikir-pikir, sebaiknya
melakukan hal itu di kamar mandi agar tidak becek ke mana-mana dan mudah
membersihkan diri.
Kuajak dia ke kamar mandi, lalu kusuruh dia untuk duduk di kloset. Lalu saya buka celana dan bajunya sehingga dia berada dalam keadaan telanjang bulat. Ketika melihat hal itu untuk pertama kalinya, penisku berereksi dan menonjol di celana pendekku.
Kuajak dia ke kamar mandi, lalu kusuruh dia untuk duduk di kloset. Lalu saya buka celana dan bajunya sehingga dia berada dalam keadaan telanjang bulat. Ketika melihat hal itu untuk pertama kalinya, penisku berereksi dan menonjol di celana pendekku.
Dia
hanya bertanya, “Abis ini ngapain Banon?” tanyanya
“Tenang aja, biar saya kerja!” kataku.
“Tenang aja, biar saya kerja!” kataku.
Lalu
saya berlutut di depannya dan mukaku berada persis di vaginanya. Lalu saya
mulai menjilati vaginanya tanpa merasa jijik sedikitpun. Dia pun tampaknya
menikmati hal tersebut, lalu aku mulai menjilati terus hingga bibir vaginanya
merekah dan saya dapat melihat klitorisnya membesar, walaupun tidak begitu
besar, akupun menjilati dan memainkan klitorisnya itu dengan mulutku.
Mengigit
gigit kecil klitorisnya, mengulumnya dan menyodok lubangnya dengan lidahku.
Kadang dia menggelinjang kenikmatan dan hingga akhirnya dia lemas beberapa
kali, mungkin sekitar 4 kali, mungkin karena pengaruh psikis.
No comments:
Post a Comment