Cerita Seks - Saya dan suami sudah pindah kerumah kita sendiri. Kita baru pindah ke sebuah kompleks perumahan yang masih sangat baru.
Belum
banyak penghuni yang menempatinya, malahan di gang rumahku (yang terdiri dari
12 rumah) baru 2 rumah yang ditempati, yaitu rumahku dan rumah Pras. Rumah Pras
hanya berjarak 2 rumah dari rumahku. Karena tidak ada tetangga yang lain, Pras
jadi cepat sekali akrab dengan suamiku.
Saya
dan Winda, istri Pras jadi seperti sahabat lama, kebetulan kami seumuran.
Hampir tiap hari kita saling curhat tentang apa saja, termasuk soal seks. Biasa
kita berbincang di teras depan rumah Winda kalau sore sambil Winda menyuapi
Aria, anak mereka. Saya kurang “Bahagia” soal urusan ranjang ini dengan
suamiku. Bukannya suamiku ada kelainan, tapi dia senangnya tembak langsung
tanpa pemanasan dahulu, sangat konservatif tanpa variasi dan sangat egois.
Begitu sudah ngecret ya sudah, dia tidak peduli dengan saya lagi. Sehingga saya
sangat jarang mencapai kepuasan dengan suamiku. Sebaliknya Winda bercerita
kalau dia sangat “bahagia” dengan kehidupan seksnya. Pras hampir selalu bisa
memberikan kepuasan kepada istrinya. Kita saling berbagi cerita dan kadang sangat
mendetail malah. Sering saya secara terbuka menyatakan iri pada Winda dan hanya
ditanggapi dengan tawa terkekeh2 oleh Winda.
Jum’at
petang itu kebetulan saya sendirian di rumah. Terdengar ketukan di pintu sambil
memanggil2 nama suamiku. Saya membukakan pintu. “Eh .. Mas. Masuk Mas,” sapaku
ramah. Saya baru selesai mandi sehingga tanpa make up dengan rambut yang masih
basah tergerai sebahu. Saya mengenakan daster batik mini warna hijau tua dengan
belahan dada rendah, tanpa lengan yang memeperlihatkan pundak dan lengan yang
putih dan sangat mulus. “Nnng … suamimu mana Sin?” “Wah ke luar kota Mas.”
“Tumben Sin dia tugas luar kota. Kapan pulang?” “Iya Mas, kebetulan ada acara
promosi, jadi dia harus ikut, sampai Minggu baru pulang.
Mas Pras ada perlu ama suamiku?” “Enggak kok, cuman pengin
ngajak catur aja. Lagi kesepian nih, Winda ama Aria nginep dirumah ibunya.”
“Wah kalo cuman main catur ama Sintia aja Mas.” “Emang Sintia bisa catur?” “Eit
jangan menghina Mas, biar Sintia cewek belum tentu kalah lho ama Mas.” ucapan
ku sambil tersenyum. “Ya bolehlah, saya pengin menjajal Sintia,” katanya dengan
nada agak nakal.Aku hanya tersenyum menjawab godaanku. Aku membuka pintu lebih
lebar dan mempersilahkan dia duduk di kursi tamu. “Sebentar ya Mas, Sintia ambil
minuman. Mas susun dulu caturnya.”
Saya
melenggang ke ruang tengah. Pas saya melangkah sambil membawa baki yang berisi
2 cangkir teh dan sepiring kacang goreng kegemarannya dan suamiku kalau lagi
main catur, dia sedang menyusun biji2 catur dipapannya. Saya membungkuk
meletakkan baki di meja, mau tak mau belahan dada dasterku terbuka dan
menyingkap dua bukit toketku yang putih dan sangat padat. Saya tidak memakai
bra. Kemudian saya duduk di kursi sofa di seberang meja. “Siapa jalan duluan
Mas?” “Sintia kan putih, ya jalan duluan dong,” jawabnya. Beberapa saat kami
mulai asik menggerakkan buah catur. Saya membuktikan bahwa saya cukup menguasai
permaian ini. Beberapa kali langkah ku membuat dia harus berpikir keras. Tapi
saya pun kerepotan dengan langkahnya.
Beberapa
kali aku harus memutar otak. Kadang2 aku membungkuk di atas meja yang rendah
itu dengan kedua tanganku bertumpu di pinggir meja. Posisi ini tentu saja
membuat belahan dasterku terbuka lebar dan kedua toketku yang aduhai itu
menjadi santapan empuk kedua matanya. Satu dua kali dalam posisi seperti itu
aku mengerling kepadanya dan memergoki dia sedang menikmati toketku. Saya
membiarkan matanya menjelajahi toketku sehingga saya sama sekali tidak mencoba
menutup daster dengan tanganku. “Cckk cckk cckk Sintia memang hebat, saya ngaku
kalah deh.” “Ah dasar Mas aja yang ngalah dan nggak serius mainnya. Konsentrasi
dong Mas,” jawab ku sambil tersenyum menggoda. “Ayo main lagi, Sintia belum
puas nih.” kataku rada genit.
Kami
main lagi, permainan berjalan lebih seru, sehingga suatu saat ketika sedang
berpikir, tanpa sengaja tanganku menjatuhkan biji catur yang sudah “mati” ke
lantai. Dengan mata masih menatap papan catur aku mencoba mengambil biji catur
tsb dari lantai dengan tangan kananku. Rupanya dia juga melakukan hal yang
sama, sehingga tanpa sengaja tangan kami saling bersenggolan di lantai. Entah
siapa yang memulainya, tapi kami saling meremas lembut jari tangan di sisi meja
sambil masih duduk di kursi masing2. Saya melihat ke arah nya. dia masih dalam
posisi duduk membungkuk . Jari tangan kirinya masih terus meremas jari tangan
kananku.
Dia
menjulurkan kepalaku dan mencium dahi ku dengan sangat mesra. Aku sedikit
terperanjat dengan langkahnya, tapi hanya sepersekian detik saja. Saya melenguh
pelan, “oooohhh …”Dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Dia mengkulum lembut
bibir ku sambil tangan kanannya melingkar di belakang leherku. Saya
menyambutnya dengan mengulum balik bibirnya. Kami saling berciuman dengan
posisi duduk berseberangan dibatasi oleh meja. Kuluman bibirnya ke bibirku
berubah menjadi lumatan. Bibirku disedot pelan, dan lidahnya mulai menyeberang
ke mulutku. Aku pun menyambutnya dengan permainan lidahku. Klik Judi Online.
Merasa
tidak nyaman dalam posisi ini, dia lepaskan ciumannya. Dia bangkit berdiri,
berjalan mengitari meja dan duduk di sisi kiri ku. Belum sedetik dia duduk aku
sudah memeluknya dan bibirnya kembali melumat kedua bibirku. Lidahnya terus
menjelajah seluruh isi mulutku sepanjang yang bisa dia lakukan. Aku pun tak mau
kalah bereaksi. Harus aku akui bahwa aku belum pernah berciuman begini hot,
bahkan dengan suamiku sekalipun. Dia menciumi sisi kiri leher ku yang putih
jenjang. Rintih kegelian yang keluar dari mulut ku dan bau sabun yang harum
semakin memompa semangatnya. Ciumannyabergeser ke belakang telinga ku, sambil
sesekali menggigit lembut cupingnya. Aku semakin menggelinjang penuh kegelian
bercampur kenikmatan. “Aaahhhh … aaaahhhhh,” aku merintih pelan. Dia merangkul
leherku dengan lengan kanannya.
Tangan
kanannya mulai menelusup di balik dasterku dan merayap pelan menuju puncak
toket ku yang sebelah kanan. Toketku memang sangat padat. Bentuknya sempurna,
ukurannya cukup besar karena tangannya tak mampu mengangkup seluruhnya.
Jari2nya mulai menari di sekitar pentil ku yang sudah tegak menantang. Dengan
ibu jari dan telunjuknya dia memelintir lembut pentilku yang mungil itu. Aku
kembali menggelinjang kegelian. Aku menolehkan wajah ke kiri dengan mata yang
masih terpejam. Dia melumat bibirku. Kami kembali berciuman dengan panasnya
sambil tangannya terus bergerilya di toket kananku. Ciumannya semakin ganas dan
sesekali menggigit lembut bibirku.
Tangan
kirinya digerakkan ke paha kiri ku yang mulus. Lambat namun pasti, usapan
tangan diarahkannya semakin keatas mendekati pangkal pahaku. Ketika jarinya
mulai menyentuh cd ku di sekitar no nokku, dia menghentikan gerakanku. Tangan
kirinya kembali diturunkan, dia mengusap lembut pahaku mulai dari atas lutut.
Gerakan ini diulang beberapa kali sambil tangan kanannya masih memelintir
pentil kanan ku dan mulut kami masih saling berpagutan.
Ciumannya
semakin mengganas. Dia pun mulai meraba no nokku yang masih terbalut cd itu. no
nokku berdenyut lembut . Dengan jari tengah tangan kirinya, dia menekan pelan
tepat di tengah no nokku. Denyutan itu semakin terasa. “Aaahh … Mas… aahhh ..
iya .. iya,” aku melenguh sambil sedikit meronta dan kedua tanganku menyingkap
daster miniku serta menurunkan cdku sampai ke lutut. Serta merta matanya bisa
menatap leluasa no nokku. Bukitnya menyembul indah, jembutku cukup lebat. Di
antara kedua gundukan no nokku itu terlihat celah sempit yang kentara sekali
berwarna merah kecoklatan.
Kemudian
jari2 tangan kirinya mulai membelai semak2 yang terasa sangat lembut itu. Aku
bereaksi terhadap belaiannya dengan menciumi leher dan telinga kanannya. Aku
semakin erat memeluknya. Tangan kanannya dari tadi tak berhenti meremas2 toket
ku yang sangat berisi itu. Jari2nya mulai mengusap lembut no nokku yang sangat
halus itu. Perlahan dia menyisipkan jari tengah kirinya di celah no nokku. Aku
rasakan sedikit lembab dan agak berlendir. Dia menyusup lebih dalam lagi sampai
dia menemukan it ilku yang sangat mungil . Dengan gerakan memutar lembut dia
mengusap it ilku. “Ahhhh … iya … Mas .. ahhhh .. ahhhh.” Jari tengahnya ditekan
sedikit lebih kuat ke it ilku, sambil digosokkan naik turun. Aku meresponsnya
dengan membuka lebar kedua pahaku, namun gerakanku terhalang cd yang masih
bertengger di kedua lututku.
Sejenak ia menghentikan gosokan jarinya, dia menggunakan tangan
kirinya untuk menurunkan cdku. Aku membantu dengan mengangkat kaki kiriku
hingga cdku terlepas dan hanya menggantung di lutut kanan ku. Gerakan ku sudah
tak terhalang lagi. Dengan leluasa aku membuka lebar kedua pahaku. Jarinya
sekarang leluasa menjelajah seluruh no nokku yang sudah sangat licin berlendir
itu. Dia menggosok2 it il ku dengan lebih kuat sambil sesekali mengusap ujung
no nokku dan digesek keatas kearah it ilku. Aku menggelinjang semakin hebat.
“Aaaaaahhhhh …. Mas .. Mas ….. ahhhhh .. terus … ahhhhh,” pintaku sambil
merintih. Intensitas gosokannya semakin dia tingkatkan. Dia mulai mengorek
bagian luar lubang no nokku. “Iya … ahhh … iya .. Mas …”
Saya hanya tergolek bersandar di sofa yang empuk itu. Kepalaku terdongak kebelakang,
mataku tertutup rapat. Mulutku terbuka lebar sambil tak henti mengeluarkan
erangan penuh kenikmatan. Tanganku terkulai lemas tak lagi memeluknya. Tangan
kanannya pun sudah berhenti bekerja karena merangkul aku dengan erat agar aku
tidak melorot ke bawah. Daster ku sudah terbuka sampai keperut, menyingkap
kulit yang sangat putih mulus tak bercacat. Cdku masih menggantung di lutut
kananku. Pahaku mengangkang maksimal. Jarinya masih menari-nari di seluruh
bagian luar no nokku.
Dia
sengaja belum menyentuh bagian dalam no nokku. Aku sekarang menggeleng2 kepala
ke kiri kanan dengan liar. Rambut basahku yang sudah mulai kering tergerai
acak2an. “Mas … Mas …. ahhhhh …. enak …. ahhhh nggak tahaaann .. ahhhh.” Aku
sudah hampir mencapai puncak kenikmatan birahiku. Dengan lembut dia mulai
menusukkan jari tengahnya ke dalam no nokku yang sudah sangat basah itu. Dia
menyorongkan sampai seluruh jarinya tertelan no nokku yang cukup sempit itu.
Dia tarik perlahan sambil sedikit dibengkokkan keatas sehingga ujung jarinya
menggesek lembut dinding atas no nokku. Gerakan ini dilakukannya berulang kali,
masuk lurus keluar bengkok, masuk lurus keluar bengkok, begitu seterusnya. Tak
sampai 10 kali gerakan ini, tubuhku menjadi kaku, kedua tanganku mencengkeram
erat pinggiran sofa. Kepalaku semakin mendongak kebelakang. Mulutku terbuka
lebar. Gerakannya dipercepat dan ditekan lebih dalam lagi. “Aaaaaahhhhhhhhhh.”
Saya melenguh dalam satu tarikan nafas yang panjang. Tubuhku sedikit menggigil. Aku
bisa merasakan jari tangannya makin terjepit kontraksi otot no nokku, dan
bersamaan dengan itu cairan no noktku menyiram jarinya. Aku telah nyampe. Dia
tidak menghentikan gerakan jarinya, hanya sedikit mengurangi kecepatannya.
Tubuh ku masih menggigil dan menegang. Mulutku terbuka tapi tak ada suara yang
keluar sepatahpun, hanya hembusan nafas kuat dan pendek2 yang keluar lewat
mulutku. Kondisi demikian berlangsung selama beberapa saat. Kemudian tubuh ku
berangsur melemas, dia pun memperlambat gerakan jarinya sampai akhirnya dengan
sangat perlahan dia cabut dari no nokku.
Mata
ku masih terpejam rapat, bibirku masih sedikit ternganga. dengan lembut dan
pelan dia mendekatkan bibirnya ke mulut ku. Dia mencium mesra bibirku yang
sensual itu. Akupun menyambut dengan tak kalah mesranya. Kami berciuman bak
sepasang kekasih yang saling jatuh cinta. Agak berbeda dengan ciuman yang
menggelora seperti sebelumnya. “Nikmat Sin?” dengan lembut dia berbisik di
telinga ku. “Mas … ah … Sintia belum pernah merasakan kenikmatan seperti tadi
..sungguh Mas. Mas sangat pinter … Makasih Mas … Winda sungguh beruntung punya
suami Mas.” “Aku yang beruntung Sin, bisa memberi kepuasan kepada wanita
secantik dan semulus kamu.” “Ah Mas bisa aja … Sintia jadi malu.”
Akhirnya
aku sadar akan kondisiku saat itu. Dasterku awut2an, pahaku masih terbuka
lebar, dan cdku tersangkut di lututku. Aku segera duduk tegak, menurunkan
dasterku sehingga menutup pangkal pahaku. Akhirnya aku bangkit berdiri. “Sintia
mau cuci dulu Mas.” “Aku ikut dong Sin, ntar aku cuciin,” dia menggodaku. “Ihhh
Mas genit.” Sambil berkata demikian aku menggamit tangannya dan menariknya ke
kamarku. Sampai di kamarku dia berkata: “Aku copot pakaianku dulu ya Sin, biar
nggak basah.” Aku tidak berkata apa2 tetapi mendekatinya dan membantu melepas
kancing celananya semantara dia melepaskan kaosnya.
Dia
kemudian melepaskan juga celananya dan hanya memakai cd saja. Aku melirik ke
arah cdnya. Tampaknya kon tolnya yang besar dan panjang (dibandingkan dengan
kon tol suamiku yang kecil) sudah menegang. Dia maju selangkah dan mengangkat
ujung bawah dasterku sampai keatas dan aku mengangkat kedua tangannya sehingga
dasternya mudah terlepas. Dia tampak mengagumi tubuhku. Toket yang dari tadi
hanya diraba sekarang terpampang dengan jelas di hadapannya. Bentuknya bundar
kencang, cukup besar, tapi masih proporsional dengan ukuran tubuh ku yang sexy
itu. Pentilku sangat kecil bila dibanding ukuran bukit toketku. Warna pentilku
coklat agak tua, sungguh kontras dengan warna kulit ku yang begitu putih.
Perut
ku sungguh kecil dan rata, tak tampak sedikitpun timbunan lemak disana.
Pinggulku sungguh indah dan pantatku sangat sexy, padat dan sangat mulus.
Pahaku sangat mulus dan padat, betisku tidak terlampau besar dan pergelangan
kakiku sangat kecil. “Mas curang … Sintia udah telanjang tapi Mas belum buka
cdnya.” Tanpa menunggu reaksinya, aku maju selangkah, agak membungkuk dan
memelorotkan cdnya. Dia membantu dengan melangkah keluar dari cdnya. kon tolnya
yang sedari tadi sudah berdiri tegak langsung menyentak. Besar dan panjang,
mengangguk2 saking kerasnya. Kami berdua berdiri berhadapan sambil bertelanjang
bulat saling memandangi. Tak tahan melihat tubuh molek ku, dia maju langung
memeluk tubuhku erat. Kulit tubuhku langsung bersentuhan dengan kulit tubuh nya
tanpa sehelai benangpun yang menghalangi. “Kamu cantik dan seksi sekali Sin.”
“Ah Mas ngeledek aja.” “Bener kok Sin.”
Sambil
berkata demikian dia merangkul aku lalu masuk ke kamar mandi. Dia menyemprotkan
sedikit air dengan shower ke no nokku yang masih berlendir itu. Kemudian dia
memeluk ku dari belakang dan menyabuni seluruh permukaan no nokku dengan lembut.
Aku suka dengan apa yang dia lakukan, aku merapatkan punggungku ke tubuhnya
sehingga kon tolnya menempel rapat ke pantatku. Dengan gerakan lambat dan
teratur dia menggosok selangkangan ku dengan sabun. Aku mengimbanginya dengan
mengggerakkan pinggulku seirama dengan gerakannya. Akhirnya selesai juga dia
membantu ku mencuci selangkanganku dan mengeringkan diri dengan handuk. Sambil
saling rangkul kami kembali ke kamar dan berbaring bersisian di tempat tidur.
Kami saling berpelukan dan berciuman penuh kemesraan. Dia meraba seluruh
permukaan tubuh mulus ku, aku pun beraksi mengelus kon tolnya yang semakin
menegang itu. Aku
ditelentangkan,
kemudian dia melorot mendekati kakiku. Dia mulai menciumi betisku, perlahan
keatas ke pahalu yang mulus. Akhirnya mulutnya mulai mendekati pangkal pahaku.
“Ahhhhh Mas …. ah .. jangan .. nanti Sintia nggak tahan lagi .. ah.” Sekalipun
aku berkata “jangan” namun justru aku membuka kedua pahaku semakin lebar seakan
menyambut baik serangan mulutnya itu. “Nikmati saja Sin …. aku akan memberikan
apa yang tidak pernah diberikan suamimu padamu.” Dia meneruskan jilatan dan
ciumannya ke daerah selangkangan ku yang sudah menganga lebar. Bibir no nokku
yang begitu tebal dan sensual. Perlahan dia mengkatupkan kedua bibirnya ke
bibir no nokku. Sambil “berciuman” dia menjulurkan lidahnya mengorek ujung no
nokku. “Ahhhh …. Mas … aaaaahhh .. please .. please.” Begitu mudahnya kata2ku
berubah dari “jangan” menjadi “please”. Bibirnya digeser sedikit keatas
sehingga menyentuh it ilku yang berwarna pink. Perlahan dia menjulurkan
lidahnya dan menjilatinya berkali2.
Saya membuka selangkanganku semakin lebar dan menekuk lututku serta mengangkat
pantatku. Dia segera memegang pantatku sambil meremasnya. Lidahnya semakin
leluasa menari di it il ku. “Aaaaaahhhhhh …. enak Mas …. enak …. ahhhh .. iya
…. ahhhh.” Hanya itu yang keluar dari mulut ku menggambarkan apa yang sedang
kurasakan saat ini. Dia semakin meningkatkan kegiatan mulutnya, dia
mengkatupkan kedua bibirnya ke it il ku yang begitu mungil, dia menyedot
lambat2 benda sebesar kacang hijau itu. “Maaaaasss …. nggak tahaaaan … ahhhhh
.. Maassss.” Dia melepaskan tangan kanannya dari pantat ku, kemudian jari
tengahnya kembali beraksi menggosok it ilku. Lidahnya dijulurkan mengorek
seluruh lubang no nokku sejauh yang dia bisa. Tubuhku menegang sehingga pantat
dan selangkanganku semakin terangkat, kedua tanganku mencengkeram kain sprei.
“AAAaaaaahhhhh … maaaaassssssss.”
Bersamaan
dengan erangan ku dia merasakan ada cairan hangat dan agak asin yang keluar
dari nonokku dan langsung membasahi lidahnya. Dia menjulurkan lidahnya semakin
dalam dan semakin banyak cairan yang bisa dia rasakan. Saya memberontak, segera
menarik dia mendekatiku. Tangan kanannya kupegang dan sentuhkan ke no nokku.
Sambil terpejam, aku memeluknya dan langsung mencium bibirnya yang masih
belepotan dengan lendir kenikmatanku. Dia biarkan bibir dan lidahku menari di
mulutnya menyapu semua sisa lendir yang ada disana. Jari tangannya terbenam
kedalam no nokku dan digerakkan masuk keluar dengan cepat. Tubuh ku kembali
menggigil dan nonokku mengeluarkan cairan lagi. Rupanya itu merupakan sisa
orgasmeku.
Kami
masih berciuman sampai tubuh ku mulai melemas. perlahan dia mengangkat tangan
kanannya dari selangkanganku, memeluk ku dengan lembut. Bibirnya perlahan
dilepaskan dari cengkeraman mulut ku. Tubuh ku tergolek lemah seakan tanpa
tulang. Mataku sedikit terbuka menatapnya mesra. Di bibirku sedikit menyungging
senyum penuh kepuasan. “Mas …. itu tadi luar biasa Mas … Sintia belum pernah
digituin … Mas hebat .. makasih Mas … Sintia hutang banyak ama Mas.” “Sin aku
juga sangat senang kok bisa membuat Sintia puas seperti itu” sambil dia
mengkecup lembut keningku. Mata ku berbinar penuh rasa terima kasih. Kami
berbaring telentang bersebelahan untuk beberapa saat. kon tolnya masih tegang
berdiri. Aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Kali ini
aku membersihkan diriku sendiri. Dia tetap berbaring sambil mengenangkan
keindahan yang baru aku alami. Tak berapa lama kemudian aku kembali dan
langsung berbaring di sampingnya. Mataku menatap lekat ke kon tolnya.
“Mas
pengin diapain?” tanyaku manja. “Terserah kamu Sin, biasanya ama suamimu gimana
dong?” dia coba memancingku. “Biasa ya langsung dimasukin aja Mas. Sintia
jarang puas ama dia.” “Oh … terus Sintia penginnya gimana?” “Ya kayak ama Mas
tadi, Sintia puas banget. … Sintia pengin cium punya Mas boleh nggak?” “Emang
Sintia belum pernah?” “Belum Mas,” agak jengah aku menjawab, “Suamiku nggak
pernah mau.” “Ya silahkan kalau Sintia mau.” Tanpa menunggu komando aku segera
merangkak mengarahkan kepalaku mendekati selangkangannya. Saya pegang kontolnya, kuamati dari dekat sambil sedikit melakukan gerakan mengocok.
Sangat
kaku dan canggung, maklum baru pertama melakukannya. “Ayo Sin ,, saya ngak apa2
kok. Kalau Sintia suka, lakuin apa yang Sintia mau.” Dengan penuh keraguan aku
mendekatkan mulutnya ke kepala kon tolnya. Pelan2 kubuka bibirku dan memasukkan
kepalanya kedalam mulutku. Hanya sampai sebatas leher kemudian kusedot
perlahan. Saya tetap melakukan itu untuk beberapa saat tanpa perubahan. Dengan
lembut dia memegang tangan kiriku. Dia menggenggam jemariku yang lentik dan
ditariknya mendekat ke mulutnya. Dia memegang telunjukku kemudian dimasukkan ke
dalam mulutnya. Dia menggerakkan masuk keluar dengan lambat sambil sesekali
dijilat dengan lidahnya saat jari lentikku masih dalam mulutnya. Saya segera
paham bahwa dia sedang memberi “bimbingan” bagaimana seharusnya yang kulakukan. Klik Casino Online.
Tanpa
ragu saya mempraktekkan apa yang dia lakukan dengan jariku. kontolnya
kumasukkan kedalam mulutku, kemudian kepala kuangguk2kan sehingga kontolnya
tergesek keluar masuk mulutku yang sensual itu. Sekalipun masih agak canggung
tapi dia mulai bisa merasakan “pelayanan” yang kuberikan. Semakin lama aku
semakin tenang dan tidak kaku lagi. Kadang kumainkan lidahku di sekeliling
kepala kon tolnya dalam mulutku. Sepertinya aku sendiri mulai bisa merasakan
sensasi dari apa yang kulakukan dengan mulut dan lidahku. Saya mulai berani
bereksperiman. Kadang kukeluarkan kon tolnya dari mulutku, menciumi batangnya
kemudian memasukkannya kembali. Sesekali aku hanya menghisap kepalanya sambil
mengocok batangnya. “Gimana Sin rasanya?” “Mas… Sintia merasakan rangsangan
yang luar biasa, kon tolnya Mas enak .. Sintia suka, besar – panjang lagi.” Dia
bangkit berdiri di atas kasur sambil bersandar di dinding kepala ranjang. Saya langsung tahu harus bagaimana.
No comments:
Post a Comment